Hongo in act . . .
“Ahhhh.. Oishi nee.” Rina menepuk-nepukan perutnya.
“Hai! Perutku kekenyangan nih.” Aku ikut-ikutan menepuk-nepuk perutku sendiri.
“Salah sendiri nambah!!!.”
“Itukan gara-gara makanan Okasan yang nggak habis.”
“Iya.. biar nggak mubazir, kaka embat sekalian kan?” Rina mulai cerewet.
“Heh!! Kalian berdua!! Jangan ribut melulu dong. Yuuk pulang.” Otousan mencoba melerai kami.
Kami sekeluarga kembali menuju ke tempat parkir. Badan ku terasa sangat lelah. Aku ingin cepat-cepat pulang untuk tidur.
Di dalam mobil, Rina dan Okasan tertidur pulas. Dasar cewe! Baru jam 2 siang aja, mereka sudah tepar! Karena sedikit bosan, aku melihat-lihat pemandangan yang bisa terlihat dari dalam jendela mobil. Aku baru teringat jika jalan ini, searah dengan jalan menuju taman, tempat dimana aku biasanya maen sama Shige-senpai, tempat dimana aku bertemu gadis itu.
Sudah pukul 2 lebih! Biasanya, gadis itu, pulang pukul 1, aku nggak mengkin sempet ketemu ma dya. Gadis itu... memang misterius........ TUNGGUUUUU!!!! Dari jendela mobil itu... barusan aku melihatnya! Iya! Dia berpapasan denganku. Aku baru bisa melihat wajahnya dari dekat. Itu pasti dia! Aku ingat betul wadah gitarnya. (yang diingat malah wadah gitarnya T__T)
“BERHENTIIIIIII” Suaraku tiu membuat Rina dan Okaasan terbangun. Aku segera membuka pintu mobil.
“Chotto matte kudasai.” Aku mengatakan sesuatu kepada Otousan.
Aku meninggalkan mobil dan berjalan searah dengan kepergian gadis itu. Aku masih dapat melihatnya bersepeda bersama dengan kedua orang yang lain, mungkin itu temannya....
Aku berlari dan berlari, dan memangil menyuruhnya berhenti__seperti ketika aku meminta Shige-senpai untuk berhenti waktu itu___
“MATEEE!!” Aku berlari dan berlari. Seakan akan kaki dan mulutku tak bisa berhenti untuk berlari dan memanggilnya.
“Anata....” Ketika tempo berlariku mulai melambat, satu dari temannya menengok kearahku. Aku tidak tahu apa yang dia omongkan sehingga mereka menghentikan laju sepedanya.
Aku mendekatinya, dan mulai berbicara.
“Anata no...”
“Kamu fan Sensei-Anko juga ya, kedo, gomen nee.. besok saja ketemunya.” Salah seorang teman gadis itu mengatakan hal yang tidak ku mengerti. Gadis itu membungkam mulut temannya itu dengan sedikit tersenyum kepadaku.
“Gomen nee.. Kau yang waktu itukan??” Katanya kepadaku. Apakah itu sebuah pertanyaan, atau sebuah penegasan.. yang penting kini dia mengingatku dan sekarang aku tahu jika namanya adalah Anko.
“Kruuuuuuk...”
“Haduh! Sen, perutku udah keroncongan nih!!! Hayuuuk pulang!” Salah seorang teman Anko berbicara.
Dia menarik tangan Anko dan memintanya untuk pulang. Aku hanya bisa melihat Anko yang melambaikan tangannya dan tersenyum kepadaku.
“Jya nee” spontan kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku membalas senyumannya dan juga melambaikan tanganku kepadanya.
“YAAAAATTTTAAAAA!!!!” Aku menghadap kebelakang dan mengepalkan kedua tanganku ke atas.Aku kembali menuju kedalam mobil dengan muka berseri-seri.
“Niichan, dou shimashitaka?” Rina menanyakan sesuatu padaku tapi aku hanya bisa tersenyum-senyum.
“Okaasan!! Niichan Gillaaa.” Teriakan Rina membuatku tersadar kembali.
*TOOAAAAK!!*
“Enak saja! Aku nggak mau ya se-level sama kamu!!”
“Otousan!! Niichan barusan ngejek aku.” Rina mengadu kepada Otousan.
..........................................................................................................................................
Anko (4)
“Itadakimasu!!”
Sepulang dari taman, Aku, Rave dan Luna membuat mie ramen instan.
“Oishi sou..”
“Hei, ayo makan! Jangan dipandangin melulu.” Ucapku kepada Rave.
“Bukannya yang tadi itu, bunyi perut kamu kan Rave?” Tanya Luna.
“Hehehe..”
“Nee, Sen. Kamu kenal ga ama cowo yang tadi?” Luna menanyakan pertanyaan sembari meniup-niup mie ramennya yang masih panas.
“Ehh, gimana ya?”
“Sen, tapi kayaknya dia bukan fan mu deh.” Rave nerocos.
“Sou desu.” Ucapku kepada Rave.
“Haha, kupikir....”
“Nande Luna?”
“Aku pikir, dia suka sama kamu deh, Sen.” Luna menambahkan.
“Uso nee..” Ucapku.
Setelah selesai makan, Rave dan Luna membantuku membuat sebagian dari rumah hantu. Kira-kira kurang 10% lah rumah hantu ini selesai. Mungkin 2 hari cukup untuk sisanya.
“Sen, kami pulang dulu ya.”
“Ima?” Tanyaku kepada mereka.
“Hai. Kapan-kapan kami akan kesini lagi ko.” Luna memelukku.
“Jya nee.” Rave mengambil sepedanya, “Sayonara.” Luna melambaikan tangan kepadaku.
..........................................................................................................................................
Hongo (5)
“♫♫” Nada ini, mengalir dalam diriku. Aku mendapatkan inspirasi ini, setelah tadi aku bertemu dengan mu, Anko.
Nada ini, seakan menunjukan rasa penasaranku terhadap mu.
“♪♫”
Ya.. aku ingin menunjukkan nada ini untuknya. Tapi bagaimana???
“CKLEEEEKKK!!!”
“Niichan..” Rina mneghentikan nyanyianku.
“Ada yang datang nih.”
“Udah, suruh masuk aja.” Kataku kepada Rina.
“Yo.” Jawab Rina.
“KOHAIIII!!!” Shige-senpai dan semua teman-teman satu band nya masuk kedalam kamarku, disusul dengan Rina.
“Niichan, dare desuka.” Rina bertanya kepadaku.
“Oh, mereka semua pengacau. Mendingan tadi kau tidak perlu menyuruh mereka untuk masuk kesini.” Ucapku sinis.
“Nee, Kohai ku... jahat ya.” Yamapi yang merupakan vokalis dari band Shige-senpai merangkulku.
“Bukannya kita saudara.” Shige-senpai juga ikut-ikutan bikin ulah.
“Niichan, mereka semua seru ya.” Kata Rina, “Ano, kalian semua sering kesini?”
“Yokatta.. anata, adik Hongo?” Tegoshi bertanya.
“Hai.” Jawab Rina tegas.
“Sugeeeeee.... nggak nyangka! Hongo yang mukanya standar ini, punya adik yang supeeerr kawaiiii nyooo~~” Takahisa menambahkan.
“Hei! Jangan ngomong sembarangan ya, tembem!!”
“Tembem-tembem gini, gw kan tetep imut. WEEEEEEKKK!!” Balas Takahisa.
“Nee, jangan bertengkar dong...” Lerai Rina.
“Rina, suka masak?” Tegoshi bertanya kepada Rina.
“Sukaaa.” Rina tersenyum kecil. Aku bisa melihat wajah Rina memerah seperti diberi blas-on. Hehehe.. jangan-jangan ^__^v
“Kalau begitu, ayo kita masak bareng-bareng.” Ajak Tegoshi-senpai kepada Rina. Tanpa menjawab, Rina mengikuti Tegoshi menuju dapur.
..........................................................................................................................................
“Kalian kesini untuk ngeband kan?” tanyaku.
“Hah, nggak! Minggu kan hari libur, so.. kami juga ikutan libur ngeband.” Ucap Yamapi.
“Ko kesini?” tanyaku lagi.
“Aku kan kangen sama kamu.” Takahisa-senpai mengelus-elus kepalaku.
“Kangen sama aku ato sama PS ku sih?” tanyaku sambil nunjuk-nunjuk Shige-senpai dan Ryo-senpai yang lagi asyik main PS.
“Kalau begitu, matiin saja Psnya.” Celoteh Yamapi-senpai.
“Yosh! Yamapi-senpai aja yang matiin.” Kataku.
“Doshiteee.” Ucapnya.
“Aku takut ama Ryo-senpai.” Aku polos mengatakannya. Memang dari seluruh personil NEWS-band, aku tidak begitu dekat dengan Ryo-senpai. Mukanya nakutin gimanaaaaa gitu.
“Ya.. sudah!!! Biarin kalau mereka capai kan, ntar berhenti ndiri.” Aku mengatakan hal yang sering Okaasan katakan kepadaku jika aku main PS nggak ingat waktu.
Oh iya, aku sampai lupa. Bagaimana jika aku tunjukan lagu baruku tadi kepada semua. Aku ngambil gitar yang berada di samping kasurku____dimana Yamapi-senpai dan Takahisa-senpai merebahkan badannya._____
“Jreeeeeeeeeeeeng.”
“♪♫”
“♫♪”
Aku melihat Shige-senpai dan Ryo-senpai menghentikan permainan Psnya kemudian mendengarkan permainan musikku. Tak berapa lama, Yamapi-Senpai juga ikut bangun dari kasur dan menghampiriku.
Nada tanpa syair itu seolah bisa menghipnotis mereka semua____para personil NEWS band____ dalam imajinasiku.
Hanya dengan nada yang ku mainkan barusan, Shige-senpai mengetahui maksud yang aku siratkan dalam nada tadi.
“Lagu.. ini, balasan untuk kokoro no uta, desu nee.” Shige-senpai bertanya kepadaku.
“Sou ka.” Kataku jelas.
“Dare?” Yamapi-senpai bertanya.
“Hi-mi-tsu.” Aku, dan Shige-senpai kompak.
“Ya sudah.” Yamapi pergi kembali ke tempat tidur.
“Lagu tadi menyentuh jiwa.” Tiba-tiba dari belakangku, Ryo-senpai mengatakan sesuatu. Rasanya,baru pertama kali, dia mengatakan hal yang nyata kepadaku.
“Hontou??” tanyaku.
“Iyo. Kau belum tentukan liriknya?” tanya Shige-senpai kepadaku.
“Belum.” Ungkapku malu. Bagaimana bisa, aku kan baru menemukan nadanya 1 jam yang lalu. Hehehe.” Kataku polos.
“Nee, dia bisa.” Ryo-senpai menunjuk-nunjuk Yamapi-senpai yang masih berada di atas tempat tidur. Tapi, dari sana, aku dapat melihat dengan jelas mulutnya komat-kamit nggak jelas___seperti dukun yang ingin mengobati pasiennya____
“Kenapa dia?” tanyaku.
“Biasa lha, lagi cari inspirasi.” Ucap Shige-senpai dengan senyum lebar.
Baru pertama kali ini, aku melihat ada seseorang yang hanya dengan sekali mendengarkan nada, dia sudah bisa mencari lirik yang sesuai.
“Konyol-konyol gitu, Yamapi sang leader NEWS pinter buat syair loh.” Shige menambahkan.
“Hontou dia leader band ini?” tanyaku meyakinkan.
“Hai.” Jawab Ryo-senpai kepadaku.
“Eh, apa kamu bertemu dengannya lagi?” Tanya Shige-senpai.
“YOKATTA!!” jawabku diiringi dengan senyum.
“Anko desu.” Ucapku menambah.
“Hee...”
“Anko desu. onna no GITAA.” Aku menegaskan.
“Onna no nama e wa Anko desu.”
“Ohhh..” Aku paham jika Shige-senpai baru ngeh dengan perkataanku.
“Kami satu sekolah.”
“Syuukur dong, jadi kamu lebih mudah mendekatinya.”
Benar juga apa yang dikatakan oleh Shige-senpai. Dengan begini, aku akan lebih mudah untuk mendekati Anko. Tapi dengan cara seperti apa???
Huwaaaaaaaa.. berfikir, berfikir, berfikir, (mengerutkan keningnya seperti gaya Jimmy Newton).
“ Nee, Hongo! Bagaimana dengan Shonen band mu? Kamu nggak ingin membentuk grup band baru?” Tanya Shige-senpai.
Oh iya! Seminggu yang lalu, Sasuke mengajakku untuk bergabung dalam acara pensi SMA Niishoku. Yaa.. aku akan bergabung demi menunjukan kemampuanku kepada Anko!.
“YAAA!!! AKU AKAN IKUT!!!” Aku mengepalkan kedua tanganku kemudian berdiri dan berteriak sehingga membuat Shige-senpai dan lainnya melihat kearahku.
“Dou shimashitaka.” Seru mereka.
“Nandemonai, hehe” aku tersenyum-senyum sendiri.
“MINNAAA!!! MITEEE!!! MITEEE.” Yamapi-senpai berdiri dari tempat tidur dan bergegas menuju kearahku.
“Nande?” Tanyaku, Shige-senpai, dan Ryo-senpai.
“Mitee lirik yang kubuat ini.” Katanya.
“...................” Semua mata tertuju pada Yamapi-senpai.
“Kok diem aja?” tanya Ryo senpai.
“Hehe.. aku lupa! Hongo iringi aku dong!!!” katanya kepadaku.
“Hai.”
“♫♪”
“♪♫”
Wuahhh.. sugeee!!! Hontou ni!!! Suge!!! Baru kali ini, aku menemukan orang se-genius Yamapi-senpai. Dengan sekali mendengarkan nada yang aku buat, dia berhasil menuliskan liriknya dan telah berhasil menyanyikanya. Tidak fals pula!!!
“Plok!Plok!Plok!” Tepuk tangan yang lain membuat aku dan Yamapi-senpai terlihat sengat gembira.
“Yamapi-senpai!” panggilku.
“Ano, bolehkan, jika lirik ini kuminta?” tanyaku ragu.
“NGGAK!!!” jawabnya tegas.
“NGGAAAKK apa-apa dong, hehehe.” Sialan! Yamapi-senpai menipuku. Dasar tukang ngibul.
Dengan begini, sudah kuputuskan untuk menampilkan lagu ciptaanku ini dalam pensi besok. Aku harap Anko tahu isi dari laguku ini.
“Makanan siaaaaaaaaap!!” tersengar suara dari Tegoshi-senpai yang seperti biasa membuatkan makanan-makanan super lezat untuk kami. Haduh!! Aku sampai lupa jika Rina membantunya untuk memasak. Tapi untuk hari ini, sepertinya aku agak meragukan masakan Tegoshi-senpai deh.
Ya sudah!! Tak apalah!! Yang penting,
“Nee.. ITADAKIMASUUUUUU!!” Kami semua makan bersama-sama.
bersambung di chapter2#6

0 komentar:
Posting Komentar