Flash Back to the Future
1#
My story.... never end... wise will always eternity life.....
Onegaishimasu!!! Kamisama no mamoru yo!!!
“Ini hari terakhirku ya... di SMP ini?... huuuff___ aku tak akan melupakan semua kisahku di SMP ini yang telah membuatku menjadi seperti sekarang.”
“Dan sekarang ini, aku harus menampilkan yang terbaik dan aku harus berusaha.”
Ruang ganti yang penuh sesak siang itu, menambah suasana menjadi tegang. Tangannya pun menggigil pucat. Namun, anak laki-laki itu mencoba untuk mengontrol semuanya.
“Ayolah teman,... kita keburu tampil nih...” Ucap seorang teman yang juga satu band dengannya.
Segera saja dia mengambil gitar yang ada tepat di sampingnya kemudian berlalu.
“Nee.... Chotto... ayo kita serukan yell penyemangat!!!”
“Iyah... saking deg-degannya, aku sampai lupa...” Ungkap basis band itu.
“Minnaaa....”
“Satu.....”
“Dua........”
"Tigaaaaaaaa..”
“SHONEN BAND!!!! POWER ENTER!!!!” teriak semuanya dengan semangat.
..........................................................................................................................................
“Nah... berikutnya, kita akan menampilkan band yang sudah kita tunggu-tunggu...," "Baiklah... Langsung saja... Beri sambutan yang meriah untuk......"
"Shouneeeeeeeeen-band.” Terdengar suara dari MC memanggil mereka.
Shonen band, merupakan band yang sangat dikenal oleh seantero SMP Niigo. Sorak sorai para penonton pun menggema. Semua personil band itu menaiki panggung dan bersiap-siap. Seorang dari personil band itu mengambil alih dan mulai berbicara.
“Sebelum kami tampil membawakan lagu ini, jujur dari lubuk hati kami yang paling dalam, kami benar-benar mengucapkan terima kasih. Atas dukungan Bapak Ibu Guru dan teman-teman semuanya terhadap Shonen band selama ini.”
“Mungkin ini penampilan Shonen band untuk yang terakhir kalinya. Meski ini adalah lagu terakhir kami, ini juga merupakan lagu yang terbaik yang pernah kami nyanyikan.”
“Jreeeeeeng......” dentingan gitar mengomando dimulainya musik Shonen band.
“Bulan purnama menghampiri... seketika luluh lantak hancur tiada arti...”
“Perpisahan kita ini,.... iringi sendunya malam berbintang, sunyi sepi...”
“Oooo...... jangan lah.....”
Memang benar apa yang telah dikatakan oleh Shonen band tadi. Meskipun ini adalah penampilan terakhir mereka di SMPnya, mereka tetap menghibur seantero SMPnya. Gitar melody, bass, dan vocal yang apik menambah daya ketertarikan bagi para penonton siang itu.
Mereka sampai lupa akan kesedihannya. Jika setelah ini tidak akan ada lagi Shonen band yang akan menghibur SMP Niigo.
..........................................................................................................................................
Shonen band pun mengakhiri lagunya. Mereka turun panggung dan kembali ke ruang ganti. Semua personil mengganti bajunya dengan Gakuran, simbol SMP Niigo.
“Wuiiih.. gile... Yuto.. tadi maennya keren banget..” Ujar Chinen, vokalis dari Shonen band yang sangat cerewet itu.
“Hahaha... masa...??? Aku pikir, tadi permainan drum ku sempat lost tempo saat reffren yang ke 2 loh.” Yuto menyangkal.
“Bukannya lebih kerenan aksi Hongo tadi??? Iya kan Ryosuke??” Tanya Yuto.
“Ah... nani??? Eh.. iya.. iya... aku setuju.. tadi Hongo Kakoi abis.. Apalagi waktu solo melodi nya....” Jawab Ryosuuke sang basis Shonen band.
“Hloh.... sebentar.... ngomong-ngomong, Hongo kok hilang??”
“Iyo.. Hongo di mana?? Doko e Hongo??? Baru aja diomongin malah ngilang tu anak.. haha..”
“Halah, palingan Hongo lagi bisnis ama si Erika itu... biasalah, palingan Erika lagi membujuk Hongo biar bisa dapet kancing gakuran milik Hongo.”
“Eh.. tapi kok nggak ada yang mau dapat kancing gakuran ku yaa..?? hehehe..” Goda Chinen.
“Salah sendiri!!! Kenapa kamu tu jadi cowok kagak berani tebar pesona kayak gue.” Ucap Yuto dengan nada ge-er.
“Gini dech, biar aku aja yang minta kancing mu Chinen? Boleh kagak???” Celoteh Ryosuuke itu membuat yang lainnya tertawa.
..........................................................................................................................................
“Erika...?? nande??” Hongo memanggil Erika yang sedang duduk di taman belakang sekolah.
“Kanata-kun kau datang juga.. senangnya... “ kata Erika.
“Hei.. kau ini, manja sekali sih...” celoteh Hongo.
"Apanya yang manja? Aku kan cuma memintamu datang ke sini..Memang salah?" tanya Erika.
"Nggak salah sich…Kalau gitu kenapa kamu memanggilku?" Tanya Hongo.
“Kanata-kun... aku... “
“Nande??? “
“Ayolah... kamu pasti tahu apa yang aku inginkan kan??”
“Gomen nee.. aku nggak tahu..” Hongo sedikit menggoda Erika.
“Dasar.... kamu ini nggak bisa ngerti hati seorang wanita yaa!.... Payah! Nggak romantis!!!” Erika pun pergi bergegas pergi meninggalkan Hongo.
“Chotto matte..!!!” Hongo menarik tangan Erika untuk kembali.
“Apa???” Ujar Erika sinis.
“Nandemonai..”
“YA SUDAH!!...” Erika kembali pergi.
“Hee... matte!!!” Kembali Hongo menarik tangan Erika.
“Aku tahu kok apa yang kamu inginkan.” Ungkap Hongo jujur.
“Kanata-kun.. nyebelin dech!!! Kenapa nggak dari tadi sich!!! Seneng banget kalau bisa buat aku marah.” Erika memukuli Hongo pelan.
“Kalau gitu mana?” Erika menyodorkan kedua telapak tangannya ke arah Hongo.
Lalu, Hongo pun menarik kancing urutan pertama yang ada di gakurannya hingga terlepas.
“Chotto!!! Aku tuliskan inisial nama ku dulu disini.” Hongo mengambil pen yang ada di saku celananya.
Dia pun menuliskan inisial namanya “KH”. Setelah itu, menyodorkan kancing pertamanya itu kepada Erika. Sebelum berhasil memberikannya pada Erika, tiba-tiba ada seekor kucing yang menabrak Hongo dan membuat kancing pertamanya itu terlempar.
“BAAKKKKAAAAA......” Paduan suara teriakan mereka.
Setelah menabrak Hongo, kucing itu kembali berlari dengan wajah Innocentnya.
“Kucing sialan!!! Kembalikan kancing pertama gw!! Kembali kamu!!!.” Hongo marah dan mencoba menangkap kucing sialan itu.
“Kanata-kun... mau kamu kejar pun percuma, toh jika kamu berhasil menangkap kucing itu, kancingmu kan nggak bisa kembali...” teriak Erika.
“Benar juga ya... Tapi... Erika aku... aku…aku... merasa nggak enak aja ama kamu, seharusnya kan kancing pertama itu jadi milikmu”
“Tidak apa-apa kok.” Kata Erika yang sebenarnya sedikit kecewa.
“Baka Janai yoo!!! Kalo saja aku tadi cepat-cepat memberikannya padamu, kan nggak jadi gini ceritanya.” Hongo memukul-mukulkan tangannya ke kepalanya sendiri.
“Hahaha.. dasar!!” kata Erika sambil tertawa.
“Bagaimana kalau kita mencarinya?” Ujar Hongo.
“Bakkaaaaa... kamu tadi lihat sendirikan, seberapa jauhnya kancing itu terlempar dari tangan mu.” Teriak Erika.
“Oh.. Iyah.. begini saja.!!! Akan kuberikan kancing kedua ku kepadamu.” Kata Hongo.
“Tapi... “
“Ayolah, ini....” Hongo pun melepas kancing urutan kedua dari gakurannya.
“Jaga baik-baik kancing ku ini yaa....karena aku hanya memberikan kancing-kancing ku untukmu.” Kata Hongo menambah.
“Kanata-kun.... Arigatoooooo... hontou ni Arigato Gozaimasu...” kata Erika.
Kemudian Erika pun pergi meninggalkan Hongo sendirian. Hongo terdiam sejenak sembari melihat kepergian Erika.
“Triiiiit.... Triiiiit....” Suara nada dering HP Hongo.
“Moshi-moshi...” Sapa Hongo.
“Whoy... loe di mana??? Anak-anak pada nyariin loe, tau.” Suara Yuto terdengar sangat keras.
“Eh.. Gomen... dari tadi nyari gua ya.. maaf banget...” kata Hongo meminta maaf.
“Ayo cepetan ke aula sekarang... acara pelepasan kita mau dimulai nih.” Ryo berbiucara.
“Gara-gara loe ngilang, Chinen yang nyari loe dari tadi juga ikut-ikutan ngilang nieh!!” Ungkap Yuto yang sedikit jengkel.
“Hai...Hai... wakatta..” Hongo menutup teleponnya.bersambung . . .[chapter1#2]

0 komentar:
Posting Komentar