Nakanaide.. hanasanai yo........
“Chinen, Ryo, Hongo.... ayo kita keluar sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan.” Ajak Yuto dengan raut muka yang serius.
Mereka pergi menuju ke beranda rumah Hongo. Di sana hanya ada mereka ber-4, tidak ada orang lain lagi. Sepertinya memang pembicaraan yang sangat serius.
“Yuto.. nande?” Chinen membuka pembicaraan.
“Hai.. Yuto.. nande?” Ryosuuke menanyakan kembali pertanyaan Chinen.
“........................................”
“Daijoubu desu yo?” Hongo memegang pundak Yuto.
“Na....nandemonai.” Yuto pun duduk di samping Hongo. Anehnya, mata Yuto mulai basah. Air matanya berlinang dan nafasnya terisak-isak. Semuanya hanya bisa terdiam. Tak ada sepatah katapun mereka ucapkan. Hanya pandangan kosong yang mereka tujukan kepada Yuto.
“Go...mmeen neee.” Yuto akhirnya berbicara.
“Eh..” Chinen keheranan.
“Yuto.... daijoubu desu ka.” Hongo kembali bertanya kepada Yuto.
“Gomeeeen neee.. hontou ni gomenasai.”
“Sou ka.” Ryosuuke balik bertanya.
“Akkuu... ti... tidak akan bergabung dengan Shonen band kembali.” Jawab Yuto dengan intonasi tinggi di akhir kalimatnya. *) Hloh
Tangisan Yuto semakin keras. Teman-temannya kembali diam. Pikiran mereka tiba-tiba kosong.
“Kok kamu ngomong gitu sih Yuto?” Chinen mencoba untuk tersenyum.
“Minna.. akhir bulan, aku akan pindah. Aku akan ke Fukuoka.” Jawab Yuto sayu.
“Ha..ha.ha.. gitu aja kok nangis.” Hongo menepuk-nepuk pundak Yuto.
“Berapa lama kamu berada di sana? Tenang saja, Shonen band akan tetap menunggu kedatangan Yuto sang maestro drum!!!” Ucap Ryoosuke.
“Sepertinya aku akan menetap di sana, dan nggak akan kembali ke Tokyo.” Ungkap Yuto dengan tegas.
“Hohohoho.. nggak!!! Salah tu.. Yuto-kun pasti akan kembali!!! Ingat, Shonen band butuh orang seperti Yuto-kun loh.” kata Erika yang muncul secara tiba-tiba dengan membawa cemilan untuk mereka berempat.
“Arigato minna... “ Air mata Yuto mengalir lebih banyak. Yuto berdiri kemudian memeluk Chinen, Hongo, dan Ryosuuke secara bersamaan.
“Yuto-kun.. ima, nakanaide.” Erika mengelap wajah Yuto dengan tisu, kemudian memeluknya.
“Arigato.. nee.. Erika.”
“Dozo...” Balas Erika.
“Ehem... ehem.. ada yang panas loh.... “ Chinen menunjuk-nunjuk ke arah Hongo.
“Eh.. anu.. nggak.. owk.. eh..” Hongo terlihat salah tingkah sendiri.
“Hahaha.. sepertinya, aku mencuri pelukan Erika-mu ya Hongo?” Yuto akhirnya bisa tersenyum kembali.bersambung di chapter1#6

0 komentar:
Posting Komentar