Jumat, 01 April 2011

Symphony no Melody [chapter1#6]

Posted by Beethouvyne On Blogger 07.14, under | No comments


Zutto mamori tsuduke yo.......

 “Ibu, aku pergi dulu ya..” Anko pergi meninggalkan rumahnya dengan membawa gitarnya dan kemudian diletakannya di keranjang sepedanya.
“Yaaa... tapi jangan lupa, pulangnya kamu harus mencuci!!!” Perintah Ibu Anko.
“Hai.. wakatta...” Anko mengiyakan sembari mengayuh sepedanya.
“Hmmmmf_____ sudah satu minggu ya setelah kelulusan ku... Anko!!! Ganbatteeee...”  ujar Anko dalam hati.

Ayunan langkah sepeda Anko semakin kencang. Dia menuju ke sebuah taman yang penuh dengan semak-semak dan dikelilingi oleh sungai kecil. Seminggu sudah Anko rutin berada di taman itu. Hanya sekadar untuk memainkan gitar kesayangannya itu di sana. Anko menyandarkan sepedanya di samping pohon. Kemudian dia mengambil gitarnya.

“Hari ini....berapa lagu ya?” Anko bertanya kepada dirinya sendiri.
Anko menyilakan kedua kakinya dan mulai memainkan gitarnya.

“Dare no tame ni ikite iru no... saenai hibi o shite.... yoasa wo itami no..... donna kurai kanjiteru no....... tarinai ki no o ni obore.... kiete itta no.... soroenakute mo..yeah...yeah...”  
..........................................................................................................................................

Aku kembali berada di taman ini.. banyak sekali kenangan-kenangan yang aku miliki bersama dengan anak Shonen. Rasanya rindu  sekali... padahal baru satu minggu.” Keluh Hongo.
Biasanya, aku, Chinen, Yuto, dan Ryosuuke selalu melakukan ini.” Ucap Hongo sembari berbaring memandang langit biru.

Kepalanya bertumpu pada kedua tangannya. Dengan kaki kanan disilakan ke atas olehnya. Dipejamkannya mata Honggo agar lebih menyatu dengan suasana tentram saat itu.

“Heee???” matanya tiba-tiba terbuka.
“Suara siapa?” Hongo bertanya-tanya dalam hati.

Seolah-olah tubuhnya refleks mencari asal nyanyian itu. Hongo mempercepat langkahnya mendekati nyanyian yang semakin jelas terdengar itu.

Tarinai kino o ni obore... yume ni keita kyou.. soroenakute mo yeah...yeah.. yoake maeno matataku hoshi wa.... kiete ita no.... asu e itta no... tomorrow never knows...... it’s happy line.

Suara nyanyian itu membuat Hongo semakin terkesima. Baik lagu maupun suara itu sangat senada. Menimbulkan harmonisasi yang alami. Hongo pun berhasil menemukan asal nyanyian itu. Dia mendapati seorang perempuan yang tampak sebaya dengan dirinya. Ya.. hanya seorang gadis, bernyanyi sendirian.

Kokoro no uta...” Hongo menggumam sendiri sembari mengamatinya.
            Hongo kini berada dibalik sebuah pohon besar dengan posisi seperti seorang detektif yang ingin memantau sasarannya. Kira-kira 1 menit sudah Hongo terlelap dalam alunan lagu Anko.

“Woi...” seorang laki-laki mengejutkan Hongo sembari menepuk pundah Hongo.
“AAARGHHHH..” Hongo mengeram kesakitan.
“Siapa kamu?” Tanya Hongo.
“Aku? Apa urusan mu bocah?”
“Kenapa kamu kesini?” Hongo bertanya sekali lagi.
“Sssssttttt... diam... dia akan menyanyikan lagu yang bagus setelah ini.” Laki-laki itu membungkam mulut Hongo dan menyuruhnya duduk di bawah pohon tempat dimana Hongo bersembunyi.

Setelah selesai dengan lagu pertamanya, Anko melanjutkan lagu keduanya. Kali ini, lagu yang dia bawakan sedikit lebih pelan.

Sumi nareta kono heya wo dete yuku higa kita....... atarashii tabi dachi ni...... mada to madotteru..........”

Sekali lagi Hongo dan laki-laki yang berumur 21 tahunan itu terhanyut dengan nyanyian Anko.
..........................................................................................................................................
“Untuk hari ini, selesai!!!”  Ucap Anko dengan senyum lebar dipipinya.
 Anko memasukan kembali gitar kesayangannya itu ke dalam sepeda dan  menaiki sepedanya untuk  pulang ke rumah. Di belakang pohon, Hongo dan laki-laki itu hanya bisa melihat Anko yang pergi begitu saja.

“Anata no..??” Hongo sekali lagi bertanya.
“Nande?” Sekali lagi laki-laki itu memandang Hongo. “Jya nee..” Kemudian pergi.
“Ehh.. Chotto..” Hongo mengejarnya. Namun laki-laki itu menaiki sepedanya lebih kencang.
“Donata desu ka.” Hongo sekali lagi bertanya.
Kamu tahu cewek yang bermain gitar tadi?” Hongo bertanya, bertanya, dan bertanya sekali lagi.

Karena sudah tidak sabar lagi, Hongo berada di depan laki-laki itu dan merentangkan kedua tangannya untuk menghadangnya.

“Minggir... bocah...”
“Onegai...” Hongo memohon.
“Dasar bocah tidak  tahu diri.” Laki-laki itu menepikan sepedanya dan mencari tempat untuk duduk. Hongo dengan polosnya mengikuti laki-laki itu dan segera duduk di sampingnya.
“Kau mau tahu apa, bocah?” Tanyanya kepada Hongo.
“Siapa kamu? Dan siapa cewek tadi?” Ucap Hongo.
“Hanya itu?” Laki-laki itu balik nanya.
“Hai.” Jawab Hongo tegas.
“Kalau begitu, kau belikan aku Coca-cola dulu, aku nggak bisa ngomong kalo tenggorokanku kering.” Laki-laki itu menunjuk-nunjuk ke arah sebuah kotak, minuman yang berada di seberang taman.
“What?? Enak aja nih laki-laki... minta ditraktir minum pula...”  Ujar Hongo dalam hati.

“Ehm.. iyyaaah... Okey... tapi kamu jangan kemana-mana...” Hongo berjalan menuju ke kotak minuman di seberang taman.

Hongo mengeluarkan uang dari dalam saku celananya dan memasukannya ke dalam kotak minuman itu. Tak berapa lama, keluarlah dua cola dingin dan ia pun mengambilnya.

“Kenapa? Kenapa dengan aku? Kenapa aku harus mentraktir orang yang nggak aku kenal? Kenapa aku ngotot ingin tahu tentang cewek tadi? Kepala ku ERROR!!” Dengan menggaruk-garuk kepalanya, Hongo kembali menemui laki-laki tadi.
“Nih..” Hongo mengulurkan cola ke laki-laki itu.
“Arigatou....” Laki-laki itu menerimanya sembari tersenyum.
“Sou..” Ucap Hongo.
“Kamu siapa?” Eh.. malah laki-laki itu balik tanya kepada Hongo.
“Aku nggak mau menjawabnya sebelum kau meladeni pertanyaanku.” Hongo mulai geram.
“Kau sudah ku traktir cola, lalu mana balas jasamu?” Hongo meninggikan suaranya.
“Hahaha.. dasar... bocah nggak sabaran.” Laki-laki itu tiba-tiba mengelus-elus kepala Hongo.
“Bukannya dari tadi kau yang selalu mengulur waktu setiap kali aku meminta kau menjawab!!”
“Okey.. Okey.... “ Ungkap laki-laki itu.
“Namaku Shigeaki Kato nama kecil ku Shige, pemuda tampan yang kini berusia 21 tahun lebih 15 hari. Aku kini menjadi mahasiswa di Universitas Aoyama. Dua setengah tahun lagi, aku akan menjadi seorang pengacara loh... walau ganteng begini, aku masih menjomblo entah kenapa.... “
“Woi.. Aku hanya ingin tahu kenapa kau begitu tertarik dengan cewek tadi, nggak usah kamu perkenalkan dirimu sebegitu lengkap.” Hongo tiba-tiba menyela pembicaraan Shige.
“Gomen nee... aku tidak tahu siapa cewek tadi, tapi yang membuatku sangat simpatik padanya, karena aku menyukai lagu-lagunya.” Shige memandang langit.
“Melihatnya menyanyi, aku jadi teringat dengan seseorang, seseorang yang seperti cewek tadi.... “
“Dare?” Hongo bertanya-tanya.
“Dia seperti Yui. Satu-satunya perempuan yang aku sayangi, perempuan yang mempunyai telenta yang luar biasa dalam bidang musik.” Jawab Shige bahagia.
“Lalu... di mana dia sekarang?” Tanya Hongo.
“Dia telah berada di tempat yang sangat indah, dan di sana tidak ada lagi yang mengganggunya.. dia telah tenang di sana.” Airmata Shige berlinang.
Refleks Hongo merangkul Shige untuk membuatnya tenang.
“Niichan.... Gomen nee...” Hongo menepuk-nepuk pundak  Shige seraya tersenyum kepadanya.
..........................................................................................................................................

Keesokan harinya, di tempat yang kemarin, Hongo bersama Shige melihat Anko yang sedang menyanyi. Entah mengapa mereka berdua menjadi akrab satu sama lain.

“Niichan, ke tempat yang kemarin yuk.” Hongo mengajak Shige ke tempat yang kemarin.
“Naiklah..” Shige menepuk-nepuk jok boncengan sepedanya.
“Aku?” Hongo menunjuk wajahnya sendiri.
“Iyalah, memangnya siapa lagi kalau bukan kamu, bocah!” Hongo pun duduk.

Tak beberapa lama setelah itu, mereka sampai ke tempat yang kemarin.

 “Matte!!!” Hongo menyuruh Shige duduk direrumputan itu dan  bergegas meminjam sepeda Shige.

..........................................................................................................................................

“Hosh!Hosh!Hosh!” Suara nafas Hongo yang tersendat. Dia tampak membawa sebuah gitar.
“Dou shimashitaka.” Tanya Shige.
“Dengarkan melody ini, onegai.” Hongo kemudian menunjukan permainan gitarnya itu kepada Shige.
♫♪♫♫♫♪♪♪♪♪♫♫
“Wow!! Sugeeee.” Shige memberikan acungan jempolnya kepada Hongo.
“Hontou ni?” Hongo tidak percaya.
“Hai! Tapi akan lebih bagus jika seperti ini.” Shige mengambil gitar yang dipegang oleh Hongo.
♫♫♫♪♪♫♪♪♫♫♪♪
“Wow! Kakoi nee.” Hongo memberikan acungan kedua jempolnya kepada Shige. “Aku tidak tahu kalau Niichan bisa main gitar! Udah gitu kakoi abis!!” Hongo terkagum-kagum sendiri.
“Aku yakin pasti Niichan punya band,  kan?” Tanya Hongo yang masih terseyum sendiri.
“Ya, aku punya.” Shige memberikan gitar itu kepada Hongo.
“Kau mau aku kenalkan kepada mereka?”
“Wah! Mau sekali!” jawab Hongo kegirangan.
“Nama bandnya NEWS.  Terdiri dari 5 personil, di vocal ada Yamapi, Takahisa pada bass, Ryo pada drum, Tego di rythem, dan yang megang melody, aku.” Shige menjelaskan.
“Oh, sama ya Niichan! Aku juga pegang melody loh.” Ucap Hongo yang tidak  ingin kalah.
“Nama bandku Shonen, vokalisnya Chinen, Ryo megang bass dan Yuto pada drum.”
“Nee.. personil kita ada yang bernama sama ya..” Ucap Shige kepada Hongo.
“Iyo, sama-sama Ryo nya, tapi Ryo punyaku namanya Ryosuuke hloh.. hehe.” Hongo menjelaskan.
“Ow, Ryo ku namanya Ryo Nishikido.”
“Wah! Kapan-kapan band kita main bareng ya, kayaknya seru nih!” Ajak Shige.
“Ya, siiip deh!” Jawab Hongo mengiyakan.


bersambung di chapter2#1

0 komentar:

Posting Komentar