This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Jumat, 01 April 2011
Perang Belum Berakhir
Perang Belum Berakhir!!!
Perfektur Ex-Semarang, 2213 . . .
Pagi yang indah di musim semi. Burung-burung berkicauan, bunga-bunga bermekaran. Segala hal terlihat cantik, tapi tidak dengan Mohammad Van Jazzter Schotlezz. Anak laki-laki dengan tatanan rambut spike melangkah gontai menuju ke Spesix Academy, sekolah tersohor di Ex-Semarang yang mendidik para komander (baca: siswa militer) untuk belajar dan nantinya dapat menjaga keutuhan negara, di tengah aksi separatis dan kejahatan berkedok gencatan fisik.
Ehmm.. kita kembali kepada Jazzter, biasanya dia adalah moodmaker ketika yang lain sedang bosan, tapi. . hari ini dia berjalan diiringi awan mendung diwajahnya.
“Aku tak percaya Nenek melakukan hal itu padaku!” runtuknya dalam hati.
Isi Kepalanya kacau dengan kejadian yang terjadi tadi pagi. Jazzter terus menggerutu dalam hati sampai tanpa sadar dia menabrak sesuatu eh bukan, seseorang. . itu Rave! Sahabat seperjuangan Jazzter yang selalu menunjukan raut innocent nya itu terpental sejauh 4 meter dari tempatnya bediri.
“Rave!!!” Bentaknya “Ngapain kamu disitu? Dan kenapa kamu menabrakku?!”
“Kau yang nabrak dia!” Ucap Sky sambil membantu Rave berdiri. “Dasar bodoh!!”
“Apa?!Aku bodoh?! Salah sendiri jalan di jalurku!” Jazzter setengah teriak.
“Aku nggak jalan” Jawab Rave
“Lalu?”
“Diam, berdiri”
“Hanya itu??”
“. . . “
“Arrrggghh!!! Kenapa kau harus berdiri disitu! Kau kan tahu aku ini selalu nabrak!” cerocos nya sewot. “Apalagi kau selalu diam ditempat! Mana aku tahu kalau aku bakal nabrak kamu!”
“Kau ini kenapa?salah sendiri jalan ga liat-liat! Hei baby-punk, Kepalamu berasap tuh!” ujar Sky ketus.
“Sky, kau ini cerewet sekali! Padahal kau tahu aku jalan ga lihat-lihat, kenapa kau tak peringatkan Rave yang pendiam! Kalau cerewet saja bisa, kenapa untuk memperingatinya kamu nggak mampu! Kalau kamu tadi melakukannya, aku kan nggak akan nabrak di bla. . bla. . bla. . “
“BRAAAAAAAAAAKK!!!” suara buku setebal 10 cm terdengar menghantam kepala seseorang.
“Aduuuh. . “ rintih Jazzter sembari memegangi kepalanya yang dibogem ensiklopedi tata surya. Setebal kepalan tangan milik Sky. “Udah cukup!” Ucapnya kesal.
“Kau yang salah tapi malah sewot sendiri! Malah bilang aku cerewet lagi! Kenapa sih?!”
“What’s wrong?” Tanya Rave sambil memainkan benjol Jazzter yang tingginya hamper mencapai jambulnya.
“Tadi pagi. . “ Ungkapnya mewek “Nenek mengambil onde-ondeku. . tapi dia malah menuduhku sudah mengembat kue bandungnya.” Lanjutnya.
“Sudah diperiksa?” Tanya Sky mengiba pada si korban musibah.
“Nihil. . “ ucapnya lemes. “Dan sekarang, Nenek malah menyandera sate ayamku! Katanya kalau kue bandungnya nggak kembali, dia akan mencacah sateku.”
Sky dan Rave hanya diam entah takjub entah berpikir bahwa Jazzter itu goblok.
“Sky, Rave. . kalian percaya padaku kan? Aku nggak mungkin melakukannya kan?” Tanya Jazzter penuh harap.
“Mungkin. . “ Jawab Sky dan Rave bersamaan dengan entengnya.
“Huwaaa. . kalian Jahat!” Jazzter nangis sambil grepe-grepe pohon Jati. Merasa kasian dengan temannya itu, akhirnya Rave dan Sky sepakat untuk membantu mengungkap dalang di balik pagelaran wayang ini – eh! kejadian ini. Hati Jazzter riang gembira dan langsung reflek memeluk erat 2 temannya itu, hingga tak peduli jika yang dipeluk cuma bisa megap-megap kehabisan nafas.
“Ayo masuk!!” Ajak Jazzter ketika mereka sampai di rumahnya. Rave langsung menuju kamarnya. . sedangkan Sky memutuskan untuk menginterogasi News, anjing Jazzter yang juga memiliki jambul di atas kepalanya.
“hmm, seperti yang sudah aku duga. . “ Ucap Sky mengamati News.
“SKY LANDSTEINER?! Apakah kau sudah memecahkan misterinya?” Tanya Jazzter kagum. Maklum saja jika Sky mampu memecahkannya dengan cepat, di Spesix Academy, Sky selalu menjadi nomor 1 selama 2 tahun berturut-turut tak heran jika Sky memiliki laboratorium sendiri di sana.
“Ya!” Sky yakin sekali.
“Katakan!!” Jerit jazzter nggak sabar.
“Aku tahu sesuatu . . “ ujarnya mendramatisir. “kau membawa News tidur denganmu kan?” Jazter hanya melongo. “Kau tahu, baunya seperti mu!”
GUBRAAAAAKK!!! “Aku serius!!” Ucap Jazzter kesal.
Drap. . Drap. . Drap. . Braaak!! Gabruuuk!!! Suara Rave yang tengah berlari kemudian jatuh berguling dari atas tangga memecah suasana.
“Rave!!!” Jerit jazzter panik melihat Rave yang jatuh tengkurap.
“Ada apa denganmu?” Tanya Sky frustasi sambil memastikan tak ada tulang yang bergeser, retak, ataupun patah dari tubuh anak itu.
“Coklat. . “ desah Rave di sela nafasnya yang memburu.
“Coklat?!” ucap 2 temannya berbarengan.
“Hilang . . “ lanjut Rave. Jazzter dan Sky saling berpandangan satu sama lain dan tanpa aba-aba apapun ketiganya berlarian menuju kamar Rave dan menemukan potongan coklat yang di bagian pinggirnya tercetak gigitan gigi-gigi kecil. Jazzter maupun neneknya tidak masuk ke kamar Rave sejak kemarin. Sedangkan Rave sendiri semalam tidak tidur di rumah Jazzter. Hanya satu jawaban. . . membayangkan saja Jazzter langsung berkeringat dingin menyadari pelaku atas semua misteri ini.
“Nying-nying. . “ Desis Jazzter. (ket: Dalam kamus besar Bahasa Indonesia tahun 2213, kata tikus di kembalikan seperti pada Bahasa Jawa, yaitu nying-nying) dan ketika jazzter selesai mengucapkan kata ajaib barusan, Rave dapat merasakan sesuatu mendatangi mereka. Sesuatu yang kecil dan hitam. . . .nying-nying datang! Ketika menyadari hal tersebut, Rave dan Sky hanya bisa berlari terbirit-birit karena Jazzter mengeluarkan second, senjatanya yang terpasang pada pistol yang tenaga tembakannya dapat menembus baja setebal lebih dari 5 meter semudah mengoyak jeli hanya sekali tembak.
“kemari kau. . “ Desis Jazzter kalap “Disana kau rupanya. . !” ucap Jazzter sembari mengarahkan second ke lemari dan. . DUAAAR!! Sudah tidak ada lagi lemari disana.
“Jangan lari!” Teriak Jazzter, sekarang dia menghadapkan moncong pistolnya ke bawah meja, dan sekali lagi. . DUAAAR!!! Tak ada meja lagi, hanya ada kaki meja. Baku hantam antara The Second Komander, si Jazzter VS The Nying-nying, si-tikus terjadi hampir 1 jam dan hampir pula menghancurkan rumah sampai membuat Rave emosi jiwa dan melempar ensiklopedi setebal 10 cm milik Sky tepat ke arah sang nying-nying itu. .
BRAAAAAAK!!!
Melayanglah nyawa si nying-nying oleh lemparan buku Rave dan bukan karena
senjata mutakhir Jazzter (Jazzter dan Sky masih tetap merinding kalau ingat betapa kuatnya Rave yang sering bengong tanpa ekspresi itu)
“Akhirnya. . “ desah Jazzter lega “ini semua berakhir.”
“. . . . “
“Belum Selesai!!” teriak Karen, nenek Jazzter. Suaranya membahana keseluruh ruangan ketika mendapati rumahnya porak-poranda oleh aksi Jazzter dkk, ketika dia pergi.
“Ne. . Nenek!!” Jerit Jazzter terbata-bata.
“JAZZTER!!” Teriak nenek Jazzter frustasi.
Sementara Jazzter tengah dihujani berjuta-juta kalimat ‘indah’ oleh neneknya. Rave dan Sky berlindung, menyelamatkan diri di kolong meja makan.
“Kalau kau bisa membunuh nying-nying semudah itu kenapa tidak bilang?” Tanya Sky penasaran.
“Tidak ada yang Tanya.” Jawab Rave singkat dan datar.
“Astaga. . “ ucap Sky frustasi. “Dasar muka datar!!”
Ketika tengah asyik dengan kegiatan masing-masing, terdengar suara . . Sraak. . Sraaak. . Sraaak. . dan semua orang mengalihkan pandangannya ke bungkusan kue bandung yang dibawa Karen.
“NYING-NYING!!!” pekik Jazzter sambil berlarian membawa second-nya.
“Ensiklopedi. . . “ Ucap Rave berlari sambil membawa ensiklopedi menyusul Jazzter.
“Astaga-dragon. . perang belum berakhir. . .!!” Ratap Sky di pojok meja sendirian.”
Perang Belum Berakhir!!! – Selesai -
Symphony no Melody [chapter2#5]
Posted by Beethouvyne On Blogger
07.20, under | No comments
Hongo in act . . .
“Ahhhh.. Oishi nee.” Rina menepuk-nepukan perutnya.
“Hai! Perutku kekenyangan nih.” Aku ikut-ikutan menepuk-nepuk perutku sendiri.
“Salah sendiri nambah!!!.”
“Itukan gara-gara makanan Okasan yang nggak habis.”
“Iya.. biar nggak mubazir, kaka embat sekalian kan?” Rina mulai cerewet.
“Heh!! Kalian berdua!! Jangan ribut melulu dong. Yuuk pulang.” Otousan mencoba melerai kami.
Kami sekeluarga kembali menuju ke tempat parkir. Badan ku terasa sangat lelah. Aku ingin cepat-cepat pulang untuk tidur.
Di dalam mobil, Rina dan Okasan tertidur pulas. Dasar cewe! Baru jam 2 siang aja, mereka sudah tepar! Karena sedikit bosan, aku melihat-lihat pemandangan yang bisa terlihat dari dalam jendela mobil. Aku baru teringat jika jalan ini, searah dengan jalan menuju taman, tempat dimana aku biasanya maen sama Shige-senpai, tempat dimana aku bertemu gadis itu.
Sudah pukul 2 lebih! Biasanya, gadis itu, pulang pukul 1, aku nggak mengkin sempet ketemu ma dya. Gadis itu... memang misterius........ TUNGGUUUUU!!!! Dari jendela mobil itu... barusan aku melihatnya! Iya! Dia berpapasan denganku. Aku baru bisa melihat wajahnya dari dekat. Itu pasti dia! Aku ingat betul wadah gitarnya. (yang diingat malah wadah gitarnya T__T)
“BERHENTIIIIIII” Suaraku tiu membuat Rina dan Okaasan terbangun. Aku segera membuka pintu mobil.
“Chotto matte kudasai.” Aku mengatakan sesuatu kepada Otousan.
Aku meninggalkan mobil dan berjalan searah dengan kepergian gadis itu. Aku masih dapat melihatnya bersepeda bersama dengan kedua orang yang lain, mungkin itu temannya....
Aku berlari dan berlari, dan memangil menyuruhnya berhenti__seperti ketika aku meminta Shige-senpai untuk berhenti waktu itu___
“MATEEE!!” Aku berlari dan berlari. Seakan akan kaki dan mulutku tak bisa berhenti untuk berlari dan memanggilnya.
“Anata....” Ketika tempo berlariku mulai melambat, satu dari temannya menengok kearahku. Aku tidak tahu apa yang dia omongkan sehingga mereka menghentikan laju sepedanya.
Aku mendekatinya, dan mulai berbicara.
“Anata no...”
“Kamu fan Sensei-Anko juga ya, kedo, gomen nee.. besok saja ketemunya.” Salah seorang teman gadis itu mengatakan hal yang tidak ku mengerti. Gadis itu membungkam mulut temannya itu dengan sedikit tersenyum kepadaku.
“Gomen nee.. Kau yang waktu itukan??” Katanya kepadaku. Apakah itu sebuah pertanyaan, atau sebuah penegasan.. yang penting kini dia mengingatku dan sekarang aku tahu jika namanya adalah Anko.
“Kruuuuuuk...”
“Haduh! Sen, perutku udah keroncongan nih!!! Hayuuuk pulang!” Salah seorang teman Anko berbicara.
Dia menarik tangan Anko dan memintanya untuk pulang. Aku hanya bisa melihat Anko yang melambaikan tangannya dan tersenyum kepadaku.
“Jya nee” spontan kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku membalas senyumannya dan juga melambaikan tanganku kepadanya.
“YAAAAATTTTAAAAA!!!!” Aku menghadap kebelakang dan mengepalkan kedua tanganku ke atas.Aku kembali menuju kedalam mobil dengan muka berseri-seri.
“Niichan, dou shimashitaka?” Rina menanyakan sesuatu padaku tapi aku hanya bisa tersenyum-senyum.
“Okaasan!! Niichan Gillaaa.” Teriakan Rina membuatku tersadar kembali.
*TOOAAAAK!!*
“Enak saja! Aku nggak mau ya se-level sama kamu!!”
“Otousan!! Niichan barusan ngejek aku.” Rina mengadu kepada Otousan.
..........................................................................................................................................
Anko (4)
“Itadakimasu!!”
Sepulang dari taman, Aku, Rave dan Luna membuat mie ramen instan.
“Oishi sou..”
“Hei, ayo makan! Jangan dipandangin melulu.” Ucapku kepada Rave.
“Bukannya yang tadi itu, bunyi perut kamu kan Rave?” Tanya Luna.
“Hehehe..”
“Nee, Sen. Kamu kenal ga ama cowo yang tadi?” Luna menanyakan pertanyaan sembari meniup-niup mie ramennya yang masih panas.
“Ehh, gimana ya?”
“Sen, tapi kayaknya dia bukan fan mu deh.” Rave nerocos.
“Sou desu.” Ucapku kepada Rave.
“Haha, kupikir....”
“Nande Luna?”
“Aku pikir, dia suka sama kamu deh, Sen.” Luna menambahkan.
“Uso nee..” Ucapku.
Setelah selesai makan, Rave dan Luna membantuku membuat sebagian dari rumah hantu. Kira-kira kurang 10% lah rumah hantu ini selesai. Mungkin 2 hari cukup untuk sisanya.
“Sen, kami pulang dulu ya.”
“Ima?” Tanyaku kepada mereka.
“Hai. Kapan-kapan kami akan kesini lagi ko.” Luna memelukku.
“Jya nee.” Rave mengambil sepedanya, “Sayonara.” Luna melambaikan tangan kepadaku.
..........................................................................................................................................
Hongo (5)
“♫♫” Nada ini, mengalir dalam diriku. Aku mendapatkan inspirasi ini, setelah tadi aku bertemu dengan mu, Anko.
Nada ini, seakan menunjukan rasa penasaranku terhadap mu.
“♪♫”
Ya.. aku ingin menunjukkan nada ini untuknya. Tapi bagaimana???
“CKLEEEEKKK!!!”
“Niichan..” Rina mneghentikan nyanyianku.
“Ada yang datang nih.”
“Udah, suruh masuk aja.” Kataku kepada Rina.
“Yo.” Jawab Rina.
“KOHAIIII!!!” Shige-senpai dan semua teman-teman satu band nya masuk kedalam kamarku, disusul dengan Rina.
“Niichan, dare desuka.” Rina bertanya kepadaku.
“Oh, mereka semua pengacau. Mendingan tadi kau tidak perlu menyuruh mereka untuk masuk kesini.” Ucapku sinis.
“Nee, Kohai ku... jahat ya.” Yamapi yang merupakan vokalis dari band Shige-senpai merangkulku.
“Bukannya kita saudara.” Shige-senpai juga ikut-ikutan bikin ulah.
“Niichan, mereka semua seru ya.” Kata Rina, “Ano, kalian semua sering kesini?”
“Yokatta.. anata, adik Hongo?” Tegoshi bertanya.
“Hai.” Jawab Rina tegas.
“Sugeeeeee.... nggak nyangka! Hongo yang mukanya standar ini, punya adik yang supeeerr kawaiiii nyooo~~” Takahisa menambahkan.
“Hei! Jangan ngomong sembarangan ya, tembem!!”
“Tembem-tembem gini, gw kan tetep imut. WEEEEEEKKK!!” Balas Takahisa.
“Nee, jangan bertengkar dong...” Lerai Rina.
“Rina, suka masak?” Tegoshi bertanya kepada Rina.
“Sukaaa.” Rina tersenyum kecil. Aku bisa melihat wajah Rina memerah seperti diberi blas-on. Hehehe.. jangan-jangan ^__^v
“Kalau begitu, ayo kita masak bareng-bareng.” Ajak Tegoshi-senpai kepada Rina. Tanpa menjawab, Rina mengikuti Tegoshi menuju dapur.
..........................................................................................................................................
“Kalian kesini untuk ngeband kan?” tanyaku.
“Hah, nggak! Minggu kan hari libur, so.. kami juga ikutan libur ngeband.” Ucap Yamapi.
“Ko kesini?” tanyaku lagi.
“Aku kan kangen sama kamu.” Takahisa-senpai mengelus-elus kepalaku.
“Kangen sama aku ato sama PS ku sih?” tanyaku sambil nunjuk-nunjuk Shige-senpai dan Ryo-senpai yang lagi asyik main PS.
“Kalau begitu, matiin saja Psnya.” Celoteh Yamapi-senpai.
“Yosh! Yamapi-senpai aja yang matiin.” Kataku.
“Doshiteee.” Ucapnya.
“Aku takut ama Ryo-senpai.” Aku polos mengatakannya. Memang dari seluruh personil NEWS-band, aku tidak begitu dekat dengan Ryo-senpai. Mukanya nakutin gimanaaaaa gitu.
“Ya.. sudah!!! Biarin kalau mereka capai kan, ntar berhenti ndiri.” Aku mengatakan hal yang sering Okaasan katakan kepadaku jika aku main PS nggak ingat waktu.
Oh iya, aku sampai lupa. Bagaimana jika aku tunjukan lagu baruku tadi kepada semua. Aku ngambil gitar yang berada di samping kasurku____dimana Yamapi-senpai dan Takahisa-senpai merebahkan badannya._____
“Jreeeeeeeeeeeeng.”
“♪♫”
“♫♪”
Aku melihat Shige-senpai dan Ryo-senpai menghentikan permainan Psnya kemudian mendengarkan permainan musikku. Tak berapa lama, Yamapi-Senpai juga ikut bangun dari kasur dan menghampiriku.
Nada tanpa syair itu seolah bisa menghipnotis mereka semua____para personil NEWS band____ dalam imajinasiku.
Hanya dengan nada yang ku mainkan barusan, Shige-senpai mengetahui maksud yang aku siratkan dalam nada tadi.
“Lagu.. ini, balasan untuk kokoro no uta, desu nee.” Shige-senpai bertanya kepadaku.
“Sou ka.” Kataku jelas.
“Dare?” Yamapi-senpai bertanya.
“Hi-mi-tsu.” Aku, dan Shige-senpai kompak.
“Ya sudah.” Yamapi pergi kembali ke tempat tidur.
“Lagu tadi menyentuh jiwa.” Tiba-tiba dari belakangku, Ryo-senpai mengatakan sesuatu. Rasanya,baru pertama kali, dia mengatakan hal yang nyata kepadaku.
“Hontou??” tanyaku.
“Iyo. Kau belum tentukan liriknya?” tanya Shige-senpai kepadaku.
“Belum.” Ungkapku malu. Bagaimana bisa, aku kan baru menemukan nadanya 1 jam yang lalu. Hehehe.” Kataku polos.
“Nee, dia bisa.” Ryo-senpai menunjuk-nunjuk Yamapi-senpai yang masih berada di atas tempat tidur. Tapi, dari sana, aku dapat melihat dengan jelas mulutnya komat-kamit nggak jelas___seperti dukun yang ingin mengobati pasiennya____
“Kenapa dia?” tanyaku.
“Biasa lha, lagi cari inspirasi.” Ucap Shige-senpai dengan senyum lebar.
Baru pertama kali ini, aku melihat ada seseorang yang hanya dengan sekali mendengarkan nada, dia sudah bisa mencari lirik yang sesuai.
“Konyol-konyol gitu, Yamapi sang leader NEWS pinter buat syair loh.” Shige menambahkan.
“Hontou dia leader band ini?” tanyaku meyakinkan.
“Hai.” Jawab Ryo-senpai kepadaku.
“Eh, apa kamu bertemu dengannya lagi?” Tanya Shige-senpai.
“YOKATTA!!” jawabku diiringi dengan senyum.
“Anko desu.” Ucapku menambah.
“Hee...”
“Anko desu. onna no GITAA.” Aku menegaskan.
“Onna no nama e wa Anko desu.”
“Ohhh..” Aku paham jika Shige-senpai baru ngeh dengan perkataanku.
“Kami satu sekolah.”
“Syuukur dong, jadi kamu lebih mudah mendekatinya.”
Benar juga apa yang dikatakan oleh Shige-senpai. Dengan begini, aku akan lebih mudah untuk mendekati Anko. Tapi dengan cara seperti apa???
Huwaaaaaaaa.. berfikir, berfikir, berfikir, (mengerutkan keningnya seperti gaya Jimmy Newton).
“ Nee, Hongo! Bagaimana dengan Shonen band mu? Kamu nggak ingin membentuk grup band baru?” Tanya Shige-senpai.
Oh iya! Seminggu yang lalu, Sasuke mengajakku untuk bergabung dalam acara pensi SMA Niishoku. Yaa.. aku akan bergabung demi menunjukan kemampuanku kepada Anko!.
“YAAA!!! AKU AKAN IKUT!!!” Aku mengepalkan kedua tanganku kemudian berdiri dan berteriak sehingga membuat Shige-senpai dan lainnya melihat kearahku.
“Dou shimashitaka.” Seru mereka.
“Nandemonai, hehe” aku tersenyum-senyum sendiri.
“MINNAAA!!! MITEEE!!! MITEEE.” Yamapi-senpai berdiri dari tempat tidur dan bergegas menuju kearahku.
“Nande?” Tanyaku, Shige-senpai, dan Ryo-senpai.
“Mitee lirik yang kubuat ini.” Katanya.
“...................” Semua mata tertuju pada Yamapi-senpai.
“Kok diem aja?” tanya Ryo senpai.
“Hehe.. aku lupa! Hongo iringi aku dong!!!” katanya kepadaku.
“Hai.”
“♫♪”
“♪♫”
Wuahhh.. sugeee!!! Hontou ni!!! Suge!!! Baru kali ini, aku menemukan orang se-genius Yamapi-senpai. Dengan sekali mendengarkan nada yang aku buat, dia berhasil menuliskan liriknya dan telah berhasil menyanyikanya. Tidak fals pula!!!
“Plok!Plok!Plok!” Tepuk tangan yang lain membuat aku dan Yamapi-senpai terlihat sengat gembira.
“Yamapi-senpai!” panggilku.
“Ano, bolehkan, jika lirik ini kuminta?” tanyaku ragu.
“NGGAK!!!” jawabnya tegas.
“NGGAAAKK apa-apa dong, hehehe.” Sialan! Yamapi-senpai menipuku. Dasar tukang ngibul.
Dengan begini, sudah kuputuskan untuk menampilkan lagu ciptaanku ini dalam pensi besok. Aku harap Anko tahu isi dari laguku ini.
“Makanan siaaaaaaaaap!!” tersengar suara dari Tegoshi-senpai yang seperti biasa membuatkan makanan-makanan super lezat untuk kami. Haduh!! Aku sampai lupa jika Rina membantunya untuk memasak. Tapi untuk hari ini, sepertinya aku agak meragukan masakan Tegoshi-senpai deh.
Ya sudah!! Tak apalah!! Yang penting,
“Nee.. ITADAKIMASUUUUUU!!” Kami semua makan bersama-sama.
bersambung di chapter2#6
Symphony no Melody [chapter2#4]
Posted by Beethouvyne On Blogger
07.19, under | No comments
Anata no.....
TOAKK!!!
“YATTTAAAAA!!!” teriakku keras. Menandakan jika pukulanku masuk. Rina dan aku kegirangan, sementara kedua orang tuaku tampak sedikit jengkel.
“Weeekkk!!! Otousan, pasti nggak akan bisa mengalahkan kita! Niichan, desu nee?”
“Yokatta, mada-mada dane!” Kataku dengan percaya diri.
TOAKK!!
“Uso, kami yang akan menang.” Okasan optimis sembari memukul bola dariku.
“Yo, kami yang akan menang.” Otousan ikut-ikutan optimis.
Kami bermain double, ini meringankan beban Rina agar tidak sepenuhnya menguras tenaganya.
“TATSUKETEE!!!” Otousan berteriak. Dia melakukan smash kepadaku dan Rina. Saat itu posisi smash nya di samping Rina, dan tidak memungkinkan olehku untuk menangkisnya.
“YAAATTAAAAA!!!”
Otousan to Okaasan berteriak keras. Mereka yang memenangkannya. Duh, senangnya! Kedo.. nggak pa-palah! yang penting, aku bisa melihat Rina tersenyum gembira.
“Ano, onaka ga suita..” keluh Rina kepada kami.
“Aduh, baru gerak sedikit saja.. kamu sudah laper? ntar badan kamu bisa segede orang yang bikin cerita ini loh!!” Ucap Hongo, eh... tunggu..... hloh!!!
*TOAKK* Van memukul Hongo.
(Hei, itu tadi, nggak ada dalam sekenario!! Sekali lagi kau ngomong begitu, aku potong gajimu!!! T__T)
..........................................................................................................................................
Anko (3)
“Hari ini.... hari yang mungkin melelahkan!!! ___ sebagaimana ketika aku harus bekerja keras bersama dengan Makio dan juga Satoshi____Huwaaa!! Aku muak!!!” Dalam perasaan yang campur aduk, Aku bersiap-siap menuju ke sekolahan. Tak lupa aku membawa seambrek kertas, dan kain-kain... ya, untuk membuat rumah hantu itu.
“Otousan, Okaasan, ittekimasu!” Demo, ko’ ngga ada jawaban dari mereka?
Ah, biarin.. palingan masih pada tidur. Hehe...
Begitu aku akan membuka pintu depan rumah,...
“HOWAAAAAAAAAA!!!” kami bertiga nampak keheranan.
“Rave, Lun!” ucapku.
“Sensei!” mereka berdua memanggilku.
“Kok, kalian berdua ada di sini?” tanyaku.
“Holiday Sen, masa nggak boleh main? Hehe” Jelas Rave.
“Hah! Apanya yang libur?”
“Haduw! Baru kita tinggal 5 bulan saja Sensei udah jadi nggak waras gini! IYAA SEN!! INI HARI MINGGU!!” Luna menunjukan kalender yang ada di Hpnya.
“O.. Sensei kalo hari Minggu tetep masuk sekolah ya?” Tanya Rave.
“Nggak ada kali, sekolah yang tetap masuk pada hari Minggu.” Luna nggotot.
“Tapi, kok Sensei??” Rave bingung.
“Hehehe... memang aku yang lupa hari ko. Pantesan, jam segini kok orangtuaku belum bangun juga” Jawabku dengan malu kepada mereka.
“Matte, nee. Aku ganti baju dulu.”
“Yoo..”
..........................................................................................................................................
“Tumben kalian kesini? aku udah kangen setengah mati dengan kalian nih.” Aku segera memeluk mereka berdua.
“MAJI DEE?? Sen bisa kangen juga toh! Hehe.. gomen nee PR ku buwanyyyyyaaaaaaaak banget.” Luna menjelaskan.
“Yosh! PR kami segudang Sen.” Rave mengiyakan.
“Demo, kalian kan tetap masih bisa bertemu. Secara, kaliankan satu sekolah.” Aku mengerutkan keningku.
“Nee, jangan pikirkan yang lain dulu donk! Hari ini kan kita harus bersenang-senang.” Ujar Rave.
“Hai. Kita pergi yuuuk!!” Luna menambahkan.
“Doko e desu ka.” Tanya Rave.
“Chotto.” Kataku kepada mereka berdua. Aku kemudian meninggalkan mereka, untuk menggambil gitarku yang berada didalam kamar.
“Nee.. ikuzo!!” Aku mengomando mereka.
Aku mengajak mereka berdua___ Rave dan Luna_____ menuju ke taman yang biasanya selalu aku datangi____untuk memainkan gitar ini____
Rave memboncengkan Luna, dan aku menaiki sepedaku sendiri, tak lupa dengan gitar kesayanganku yang aku taruh di keranjang bawah.
Kami jadi teringat ketika kami masih SMP. Kami selalu pulang bersama-sama. Rasanya, aku tidak ingin melupakan hari ini....
..........................................................................................................................................
“Duduk~” kataku kepada mereka.
“Disini?”
“Yo..” kataku kepada Rave.
Kemudian, aku mengeluarkan gitarku dari dalam wadahnya, aku duduk bersila dan mulai memainkan lagu-lagu ku.
“Aku sudah lama tidak mendengarmu memainkan gitar, Sen.” Kata Luna.
“Ano, Sensei selalu berada disini tiap minggu?” Tanya Rave kepadaku.
“Toki doki.”
“Hitori nee?”
“Hai. Habis tidak ada kalian sih.”
“Nggak takut??”
“Takut untuk apa?”
“Kayak ngamen donk Sen.” Ucap Rave nyeletuk.
“Heeeh... Lu tanya nya yang bener dong.” Luna menjitak kepala Rave.
“Kupikir mereka malah terlihat menikmatinya. Kedo, mereka tidak berani mendekat untuk melihatku.. hehe.. mungkin karena aku bukan artis terkenal ya..” Kataku sambil mengelus-elus kepalaku.
“Yokatta, ntar kalau Sen udah mainin lagu, aku suruh mereka semua yang terliat sangat Exiting untuk mendekat, OK!! Anggap saja kita tidak kenal gitu Sen!” Ucap Luna.
“Sen.. Aku percaya kepadamu. Dachaaaa” Rave pergi bersama Luna.
“Nee... chotto....” Teriakku. Haduh!! Doshite... aku malah jadi grogi ya... huffh... tenang.. tenang... GANBARE MASU!!!
“lagu pertama.”
“Jrreeeeeenggg.”
“♪ Sumi nareta kono heya wo…. Dete yuku hi ga kita…. Atarashii tabidachi ni mada tomadotteru……..Eki made mukau BASSU no naka, tomodachi ni MERRU shita ♫”
Aku menyanyikan lagu ini. Lagu yang sudah lama tidak aku nyanyikan lagi. Karena Rave dan Luna lah, aku berani untuk menyanyikannya. Semuanya berjalan normal. Hampir setengah dari lagu itu telah kunyanyikan. Tiba-tiba Rave muncul dihadapanku. Dia mulai duduk di depanku. Dan mulai mendengarkanku bernyanyi. Tiba-tiba seseorang juga ikut duduk disamping Rave kedo, dia bukan Luna.. dia orang lain. Sama seperti Rave. Dia tampak tertarik dengan penampilanku.
Tak berapa lama setelah itu, aku melihat satu-demi satu orang-orang duduk mengamatiku, bukan___ lebih tepatnya menikmati penampilanku___ sekarang kira-kira ada 20-an orang yang melihatku, BUKAN!! Mungkin lebih!!! Siapa peduli...
“Sugoi.... kireii na... “ Aku kenal dengan suara ini. Ya, itu Luna.. Hummm aktingnya bagus juga untuk tidak mengenaliku. Ternyata Luna telah mengajak orang lain untuk melihatku. Melihat saking banyaknya orang, rasa grogiku berangsur-angsur menghilang. Rave dan Luna hanya bisa tersenyum sumringah kepadaku. Aku tidak bisa membalas budi baik mereka, Rave to Luna!!! Hontou ni Arigato gozaimasu!!! Plok!Plok!Plok!
Tepuk tangan para penonton (Cieee.. cieee...)menandakan lagu terakhirku telah usai. Aku mengemasi gitarku.
“Gomen nee, Atashi no namae wa Ueno. Hontou ni atashi suki.. suki... ga anata no uta. Yoroshiku da.” Seorang gadis yang kira-kira masih SMP itu menghampiriku.
“Ehhh.. hai! Arigato nee, Minoru Anko desu. Yoroshiku nee.” Ucapku kepadanya dengan tatapan sedikit aneh. Apakah gadis kecil ini “FANS” pertama ku?
“Ano, aku sering melihat Neechan berada disini untuk bernyanyi, tapi aku tidak berani mendekat.” Ungkapnya.
“Neee...T__T”
“Umm, aku minta tanda tangan!” To the point banget anak ini. Membuat kepalaku menjadi sebesar helem emmmM, lebih tepatnya segede kepala alien. ( emang kepala alien segede apa ya??? Hehe____he)
Dia menyodorkan kertas dan bolpoin padaku.
“Yosh!” aku memberi tanda tangan keduaku setelah tanda tangan untuk kartu OSIS.
“Neechan.. Jya ne.” Ucapnya kepadaku.
“Hai. Jya nee..”
“Sen, anak itu ngapain?” tanya Luna yang tiba-tiba nongol di belakangku.
“Tadi minta tanda tangan.”
“Howaaa.. Maji de!!!” Luna langsung menututi gadis itu dan meminjam kertas yang berisikan tanda tanganku tadi.
“Minnaa!! Mitteeeeee!!” Teriaknya. “Aku dapat tanda tangan dari cewek bergitar tadi loh!!” teriakannya semakin keras. KUSOO!! Spontan orang-orang yang melihatku tadi menghampiriku dan meminta tanda tanganku. (artis dadakan hehehe..) Nggak hanya minta tanda tangan, mereka juga tanya macam-macam padaku. Mungkin pertanyaan itu sudah dari dulu ingin dilontarkan untukku. Pertanyaan itu seperti,
“Anko pinter ya.. main gitarnya. Belajar dari siapa?”
Itu berkat Otousan ku.
“Anko kok suka main gitar disini sih? Kenapa nggak bikin band aja?”
Mau main gitar di puncak kek, main di jembatan kek, main di WC kek, yang penting aku nya hepi.
“Anko udah punya pacar, aku mau donk punya pacar kayak kamu.”
Neeee....
“Anko, rumahmu dimana? Boleh dong fans datang main?”
Kok pertanyaannya jadi nggak jelas gini sih...
“Nee.. Minna, gomen nee.. aku pulang dulu, jya.”
Aku mengemasi gitarku dan kemudian pulang. Agar tidak ada yang curiga, Rave dan Luna pulangnya agak nantian. Tidak kusangka!! Akhirnya aku punya fan juga, tidak hanya fan! Tapi FANS!!! Kalian lihat itu, ada tambahan “S” dalam kata Fan.
“Sensei!!!” di belakang, aku melihat Rave dan luna. Luna melambaikan tangannya seperti adegan di film-film. *dasar*
“Nee.. Arigato udah mbantu aku.” Aku meringis 1000 watt kepada mereka.
“Yosh! Yosh! Itu sih masalah kecil!, nee Rave?”
“Yo.. doitashimashite, Sensei.” Jawab Rave.
bersambung di chapter2#5
Symphony no Melody [chapter2#3]
Posted by Beethouvyne On Blogger
07.18, under | No comments
Holiday....
Hongo (2)
“Kanata-kun”
“..........”
“Bangun!!!”
“............”
“Hoy!!”
Pelan-pelan mataku terbuka. Aku mendapati Ibuku yang sudah mengenakan baju olahraga lengkap dengan raket tennis.
“Okasan, ngantuk nie.” Aku kembali memejamkan mataku yang terasa sangat berat. Seperti berjuta-juta batu tertumpuk di atasnya.
“Ayo olahraga!” Ucapnya kepadaku sembari menarik-narik kedua tanganku. “Kalau tidak bangun, aku panggilkan Ayah loh.”
“Bukannya Otousan...” Aku baru teringat jika minggu ini kami sekeluarga akan pergi main tennis bersama-sama.
Memang jadwal rutin kami untuk melakukan olahraga bersama setiap 2 minggu sekali.
“Nee.. kau lupa ya, Rina juga akan ikut loh.”
“Hontou desu ka.” Mataku yang tadinya terpejam berat seolah terbuka lebar dengan sendirinya. Aku pun memelototi Ibuku.
“Iya, kata nenek, dia sudah tidak mau lagi bersekolah di Chiba, jadi dia akan kembali bersekolah di sini.” Kata Ibu.
Ibuku tahu aku pasti akan senang mendengar berita mengejutkan ini. Rina adalah adik yang sangat aku sayangi. Ia gadis kecil yang baik. Namun suatu hari, Rina divonis menderita penyakit asma yang akut. Sehingga, setiap hari, ia dituntut menggunakan masker. Sampai suatu ketika, nenekku yang berada di Chiba mengajak Rina untuk tinggal di sana. Aku yang sebenarnya menentang keras permintaan nenek, akhirnnya setuju juga. Kata ibu, Rina akan segera pulih jika berada di daerah yang bebas polusi.
“Tapi, Rina sudah sembuh, kan ?” Tanyaku.
“Untuk sekarang, keadaan Rina sudah stabil kok.” Jawab Ibu.
“Huffh, syukurlah.” Kataku lega.
“Sudah!! Ayooo mandi sana!!” Ibu menendang bokongku menuju kedalam kamar mandi.
Selang 5 menit setelah aku selesai mandi, aku mendengar suara yang tidak asing lagi.
“Niichan..” sapaan itu memanggilku. Aku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan boxer saja. Aku membuka pintu kamar mandi cepat-cepat.
“RINNNNNNA!!!” teriakku keras-keras sembari menghampirinya dan sesegera mungkin memeluknya.
“Kakak kangen banget ma kamu, Rin!” ucapku kepadanya. Aku sampai lupa jika aku hanya mengenakan boxer dan itu terlihat oleh Rina. Akh! Tak masalah yang penting aku telah berjumpa kembali dengan adik kesayanganku itu.
“Itttttaaaaaii! Niichan! Sesak nih! Bisa-bisa baru sehari aku berada disini, keadaan ku kembali memburuk!”
“Hush! Kamu ini bilang apaan sih Rina! Jangan ngomong begitu! Nggak baik ah.” Ibu menasehati Rina.
“Minna! Jadi tidak?” Tanya otousan yang saat itu telah bersiap-siap untuk pergi.
“Ya.. jadilah! Masak ya jadi dong!” paduan suaraku dan juga Rina.
Kami berempat bergegas menuju kedalam mobil. Watashi no otousan to okasan duduk di jok depan. Sementara Aku dan Rina duduk di jok belakang. Disepanjang jalan, Aku dan Rina menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap. Rasanya Aku sangat merindukan hal seperti ini.
Kira-kira lima beals menit setelah itu, kami sampai di tempat parkir. Aku, Okasan, dan Rina pergi terlebih dahulu menuju ke lapangan Tennis. Sementara itu, ayah sedang sibuk ngobrol dengan salah seorang temannya yang saat itu juga berada di tempat parkir.
“Okasan, Rina boleh ikut main, desu nee?” Rina membujuk Okasan.
“Nee, kau harus banyak istirahat loh.”
“Demo, doshiteeeee.. onegai” Aku juga ikut-ikutan membujuk Okasan.
“Sinpai suna, Rina akan baik-baik saja ko’.” Senyum manis Rina yang telah lama tidak dilihat oleh Okasan, seperti sihir yang kemudian mengubah pemikiran Okasan.
“Hai! Wakatta. Tapi ingat, kalau saja kamu merasa sedikit lelah, kamu harus langsung ngomong ke Ibu, wakarimasuka?”
“Hai. Wakarimasu.” Rina mengangguk.
bersambung di chapter2#4
Symphony no Melody [chapter2#2]
Posted by Beethouvyne On Blogger
07.17, under | No comments
Hongo(1)
“Kanata-kun!!!” Erika memanggilku dengan suara manjanya yang khas.
“Wui, Wui! Mentang-mentang sudah SMA, Kanata-kun sekarang jarang sekali keluar kelas ya.” Tambah Erika.
“Males aja.” Tanpa berfikir panjang, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
“Apa karena Chinen dan yang lainnya?” Tanya Erika yang kemudian duduk dibangku depanku.
“Mereka semua sudah melupakan aku! Aku tahu itu! Apa mungkin mereka telah lupa dengan Shonen band?” Ujarku yang saat itu tengah bingung level tinggi.
“Weh, Kanata-kun nggak boleh negatif thinking gitu dong. Shonen band pasti akan kembali.” Erika berapi-api.
Di tengah pembicaraanku dengan Erika, seorang temanku, Sasuke menghampiri kami.
“Ano,” Ucapnya ragu.
“Nande?” Tanyaku.
“Dua minggu lagi, mau ada pensi di SMA ini, aku harap kamu mau ikut berpartisipasi.” Jelas Sasuke sembari meringis.
“Hai, tentu saja aku bersedia.” Ucapku sembari tersenyum kepadanya.
“Memangnya, kelas kita mau mengadakan acara apa?”
“Begini Hongo, kalo masalah acara di kelas, semuanya sudah beres.” Sasuke kembali tampak ragu-ragu.
“Sou..” Ucapku seraya menyuruh Sasuke melanjutkan perkataannya.
“Kami akan membuat band khusus untuk acara ini, Kami harap.....”
“AKU NGGAK MAU IKUT.” Perkataan itu tiba-tiba muncul begitu saja dari mulutku.
Entah apa yang aku pikirkan barusan, tapi nampaknya itu cukup menyakitkan hati Sasuke. Bunyi bel pulang sekolah mengakhiri penolakanku terhadap Sasuke tadi. Jujur aku tidak berani memandang wajah Sasuke. Andai saja Shonen band tidak break.... aku tidak akan sekacau ini.
Kedua kakiku berjalan sangat cepat. Tidak menghiraukan semuanya yang ada di sekelilingku. Kepalaku seakan memanas. Aku rindu semuanya. Chinen, Yuto, Ryo, kalian semua, aku........
“BRAAAAAAAAAK”
Sial! Aku terjatuh. Ternyata yang menabrakku itu seorang cewe. Sepertinya dia sepantaran denganku dan juga bersekolah di SMA ini. Aku membantunya berdiri. Setelah sempat melihat wajahnya, aku teringat akan sesuatu. Ya.. seseorang yang pernah aku temui di taman. Benar, tidak salah lagi! Itu dia, perempuan yang selalu memainkan gitarnya di taman.
“Chotto, kayaknya gw tau lo deh.” Aku mencoba berbicara dengannya.
“Kayaknya, loe salah orang deh.” Dia menjawab kemudian berlalu.
Biarpun begitu, aku sangat yakin jika perempuan itu yang berada ditaman. Benar tidak salah lagi. Bagaimanapun aku harus mencari tahu.
..........................................................................................................................................
“Tadaima.” Aku memasuki rumah. Hari ini rumah sepi, hanya ada Ayahku yang hari ini full menjaga studio. Rasanya aku ingin merebahkan tubuhku, tidur selama mungkin, melupakan semua masalah-masalahku hari ini. Mumpung sekarang belum begitu sore.
“Ckleeeek” aku membuka pintu kamar.
“O, okaeri Hongo. Kau sudah pulang ya.” Jawab seseorang yang ada di dalam kamarku.
“Oh, ternyata ada kalian disini.”
“Memangnya tidak boleh ya?” Ucap Kak Ryo yang memang rada tempramental.
“Hei, bocah! Kami di sini kan juga sudah membayar.” Kak Shige menggodaku.
“Ya, aku tahu jika kalian sudah Booking disini 3 jam. Tapi, bukannya booking itu hanya di studio? Kenapa kalian sampai masuk ke dalam kamarku?” Tanyaku.
Aku berjalan menuju tempat tidur dimana ada Yamapi-senpai dan Ryo-Senpai yang sudah pelor dari tadi.
“Urushai” aku melihat kubangan air pada bantalku yang mirip gambar peta negara Jepang yang telah berhasil dilukiskan oleh mereka berdua.
“Kami sudah selesai ngeband kok.” Takahisa-senpai menjelaskan.
“Haduh, aku mau tidur di mana nih!” Aku kebingungan memandangi sekeliling tempat tidurku.
“Taraaaaaaam!!” Yuya-senpai datang dengan membawa beberapa piring sushi dan juga nasi kepal. “Ayo, siapa yang ingin makan ini semua?” langsung saja Takahisa-senpai, dan Yamapi-senpai berteriak.
“AKUUUU! AKUUU!” Haduh!
Aku sampai kewalahan sendiri melihat makhluk-makhluk aneh ini. Shige-senpai malah asyik-asyikan main game Final Fantasy kesukaannya. Memangnya rumahku rental PS apa! Dasar!
“Ayo, Kanata-chan. Dimakan sushi buatan kak Yuya dong.” Aku mengiyakan ajakan Yuya-senpai.
Mau gimana lagi, biarpun dia itu cowok tulen, haduh! Masakannya itu loh, makyuuuuuuus banget. Tapi sama aja, jika aku ingin memakan masakan Yuya-senpai, aku harus berjuang melawan Yamapi-senpai dan Takahisa-senpai yang notabennya termasuk pemakan segalanya itu. Liat aja Yamapi-senpai! Setelah membuat peta di bantalku, dengan gampangnya dia terbangun setelah menghirup sedapnya masakan Yuya-senpai!
Terserahlah, ambil positifnya aja. Toh kalau nggak ada mereka disini setiap hari, aku pasti akan kesepian. Mereka seperti pengganti Yuto, Ryo, dan juga Chinen. Bagaimana jika dulu aku tidak dipertemukan oleh Shige-senpai? Kataku dalam hati.
..........................................................................................................................................
Anko (2)
“Ohayo.” Sapaku kepada Makio, teman sekelasku yang bisa aku harapkan. Hanya dialah satu-satunya temanku yang mau ku ajak ngobrol.
“Ohayo, Anko-chan.” Makio menjawab salamku. “Nan desuka.”
“Ah, ini untuk Bonodori besok.”
“Tapi, apakah sebanyak ini? Hanya kau dan Satoshi yang harus mengerjakannya kan?” Makio tampak sedikit jengkel.
“Mau bagaimana lagi. Doakan saja semoga semua ini selesai tepat waktu.” Kemudian aku duduk dibangkuku.
“Anko, jika butuh bantuan, aku siap kok.” Ujarnya sekali lagi.
Sudah kuduga, hanya aku dan Satoshi yang mengerjakannya. Tidak ada teman yang membantuku. Jika ada seorang yang ingin membantu pun, pastinya itu Makio saja. Untung saja konsep yang diambil Tachibana adalah rumah hantu. Dengan sedikit kepandaian menggambarku, aku masih dapat tersenyum lebar. Dan aku berjanji kalau rumah hantu ini akan menjadi pertunjukan rumah hantu yang paling menakutkan yang pernah ada.
“Ssstttt, Anko! Hei!.. Kesini gih.” Ajak Makio yang saat itu duduk di samping Satoshi.
“Nande?” Tanyaku.
“Lihat ini!” Aku pun mendekati Makio dan Satoshi.
“Sugee....” Kedua mataku melotot melihat hasil karya Satoshi.
“Mirip dengan aslinya kan?” Makio menanyakannya kepadaku.
“Hai. Mirip banget ama hantu.” Aku mengangguk mengiyakan.
“Kamu belajar membuat ini dari mana?” Aku menanyakannya kepada Satoshi.
“Oh, ini. Hanya memerlukan imajinasi untuk membuatnya.” Satoshi menerangkan.
Tidak terasa, bel pulang sekolah berbunyi. Tapi, kami memutuskan untuk melanjutkan membuat rumah hantu beserta isinya secepat mungkin. Aku, Makio, dan Satoshi akhirnya dapat mengenal satu dengan yang lain.. Meski sekarang jam menunjukan pukul 18.15, kami masih mengerjakan proyek rumah hantu ini.
“Howah! Capek!” Makio berdiri dari kursi yang ia duduki tadi.
“Mendingan kita istirahat dulu, besok kan masih bisa dilanjutkan?” Satoshi memberikan kode kepada kami.
“Hai! Ayo kita berkemas-kemas, bisa-bisa nanti aku kehabisan tiket kereta untuk malam ini.” Ucapku sembari mengangkat sebagian hasil karya kami tadi.
“Hei, bagaimana kalau hasil karya kita ini, jangan sampai ada yang tahu.” Makio menambahkan.
“Doshite?” Kata Satoshi kepada Makio.
“Biarkan ini menjadi kejutan untuk teman-teman kita, OK?”
“OK!!” Ucapku dan Satoshi kompak.
“Ano, Jya nee” Makio berpamitan kepadaku dan Satoshi.
Sekarang hanya aku dan Satoshi. Berhubung jalan menuju rumahku dan Satoshi searah, kami pulang bersama. Di sepanjang jalan, kami berbicara panjang lebar tanpa tahu topik yang kami bicarakan. Tapi anehnya, kami saling mengerti. Kuharap, Satoshi mau berteman denganku untuk seterusnya.
“Ano, aku belok sini. Keretanya hampir tiba.” Ucapku kepada Satoshi.
“Anko, ki o tsukette” Katanya kepadaku.
“Hai, anata mo.” Ucapku sembari tersenyum kepadanya.
bersambung di chapter2#3
Symphony no Melody [chapter2#1]
Posted by Beethouvyne On Blogger
07.16, under | No comments
New Life, New Heart
2#
I found you in this place, so.. I didn’t want to losing you... anytime.... anywhere....
Anko (1)
Tak kusangka... telah 5 bulan lamanya aku berada di SMU Kitagawa ini. SMU yang sebenarnya bukan menjadi sekolah pilihanku. Dan seperti inilah aku sekarang. Minoru Anko, anak kelas X-E. Coba saja tanya kepada anak kelas X yang lainnya, pasti mereka akan mengerutkan keningnya seraya bertanya, Minoru Anko siapa sih?? Atau mereka akan mengatakan, makhluk apaan sih yang bernama Minoru Anko itu??? Berbeda ketika aku di SMP dulu, huuuuuuuff____ kehidupan macam apa sih ini!!!
GUBRAAAAK!!!
“Hahahahaha... Toma Ikuta jatuh dari bangkunya....” terdengar suara keras dari salah seorang temanku.
Tak berapa lama kemudian, semua teman-temanku tertawa keras sembari mengolok-olok Toma yang sering sekali jatuh dari bangkunya. Padahal, bangku yang Toma duduki sekarang, baru kemarin sore diganti, dasar si Toma ceroboh.
BHAHAHAHAHAHAHA..... Paduan suara tertawa teman-temanku kompak.
“Sudah, sudah, jangan berisik!! Apaan sih, masa liat temennya jatuh malah di tertawain.” Pak Fuji yang saat itu mengajar menegur teman-temanku.
“Oiyah, bapak sampai lupa. Dua minggu lagi, di sekolahan ini akan diadakan acara tahunan Bonodori. Untuk itu bapak harap kalian semua ikut berpartisipasi.” Ucap Pak Fuji dengan nada serius.
“Untuk itu, bapak harap kekompakan kalian tetap dijaga, dan buatlah acara semeriah mungkin.”
“Hai, wakatteru sensei.” Jawab Tachibana yang notabennya adalah ketua kelasku.
“Kalau bisa nanti setelah pulang sekolah, kalian semua kumpul untuk membicarakannya.” Pak Fuji menambahkan. Setelah itu, terdengar bel berbunyi nyaring pertanda selesainya jam pelajaran.
..........................................................................................................................................
BAKKKKAAAAAAA!!!!
“Minna!!!!” terngiang suara lengkingan dari Tachibana.
“Ada apa kepala suku!!” Ujar Mayoko yang saat itu tengah merapikan rambutnya yang panjang dengan sisir pinknya.
“Kalian semua jangan pulang dulu. Kita harus membicarakan persiapan kita untuk acara Bonodori kali ini.” Kembali suara Tachibana melengking keras.
“Ah, males ah!!” Ujar Chirio dengan tampang mengejeknya.
“Iya, kan bisa diomongin besok-besok.” Hironori menambahkan.
“Iya, betul!! Males nih!” Paduan suara teman-temanku yang lain kompak menolak.
Kelas macam apakah ini! Aku muak berada di kelas yang tak bisa diharapkan.
“Ya, setidaknya kita mesti memikirkan konsepnya terlebih dahulu. Setelah itu, kita bisa membicarakan ulasannya besok siang.” Satoshi yang notabennya seorang yang baik itu memberikan pendapatnya.
“Benar juga apa yang dikatakan Satoshi tadi.” Kataku mengiyakan pendapat Satoshi.
“Kalau begitu, kau dan Satoshi saja yang membuat konsep sekaligus acaranya buat kami!.” Ujar Tsuru yang merupakan murid paling bawel dan paling centil di kelas.
“Iya! Benar tuwh.” Sekali lagi temen-temenku koor mengiyakan.
Kalau soal pemalasan, penolakan saja mereka bisa kompak!
“Sudah-sudah, jangan begitu dong!” Tachibana kewalahan. “Kalau begitu, aku tentukan konsepnya sekarang.” Tachibana mulai serius.
“Konsep yang akan kita ambil dalam acara Bonodori tahun ini adalah rumah hantu.” Ungkap Tachibana dengan senyum lebarnya.
“Bravo! Bravo!.” Semua teman-temanku heboh sendiri.
Mereka semua berdiskusi masing-masing membicarakan tentang kostum apa yang akan mereka kenakan untuk menakut-nakuti pengunjung nantinya.
“Tapi, kita kan harus menentukan siapa saja yang menjadi panitianya kan?” Mayoko kembali bertanya kepada Tachibana.
“Tenang saja kawan, kan sudah ada Satoshi dan Anko, hahaha.” Tsuru berulah lagi.
“Weits, jangan....” Tachibana yang saat itu sedang berbicara tiba-tiba diputus oleh Tsuru.
“Baiklah, kali ini! Aku Tsuru! Memerintahkan kepada Anko dan Satoshi! Kalian berdua ku beri kekuasaan sepenuhnya dalam acara ini!.” Ujar Tsuru sembari berdiri di depan kelas.
“Matteeeeee, maksud loe apa Tsuru?” Aku yang telah menahan amarahku dari tadi sekarang mencoba mengeluarkannya.
“Ya, begini! Dengarkan aku! Ketua Satoshi, wakil Anko, sekretaris Satoshi, bendahara Anko, seksi humas Satoshi,.....” belum selesai Tsuru berbicara,
“Aku pulang.” Aku membawa tasku dan sesegera mungkin meninggalkan kelas.
Di luar kelas aku masih sempat memandangi teman-temanku yang satu demi satu juga ikut mengemasi buku-bukunya. Mengapa sih aku selalu di “Anak tirikan “ di kelas itu. Gerutuku dalam hati.
Sepanjang jalan menuju ke stasiun, aku marah-marah tidak jelas. Tapi semua itu bertujuan agar diriku tidak stress lagi. Begitulah aku, di tengah gerutuku itu, kakiku ini masih saja rewel tidak bisa melihat jalan dengan benar. (ya iyalah masa kaki bisa melihat)
“GABRUKKKK!!!”
“Itttaaaaaaaiii.” Jeritku kesakitan.
“Gomen nee, daijobu desu yo?” suara seorang anak yang sepantaran dengan aku dan memakai seragam SMA sekolahku.
“Shinpai suna, gw ga papa kok.” Balasku sembari senyam-senyum sendiri.
“Em.. “ cowok itu menunjuk-nunjuk sesuatu tetapi tangan yang satunya untuk menutupi kedua matanya.
“Nande?” Dengan polosnya aku bertanya.
Kemudian aku melihat ke arah rok ku yang sedikit terangkat karena jatuh tadi.
“Gomen nee.” Gantian aku yang meminta maaf kepadanya dengan wajah yang sedikit memerah.
Sama seperti laki-laki itu, yang sudah dari tadi aku amati mukanya yang mulai memerah.
“Bisa berdiri?” laki-laki itu menyodorkan tangan kanannya untukku.
Tanpa berbicara aku memegang tangannya dan kemudian aku dapat berdiri kembali.
“Arigatou.” Aku berterima kasih kemudian melangkah pergi.
“Chotto, kayaknya gw tahu loe deh.” Tiba-tiba laki-laki itu mengatakan hal yang aneh kepadaku.
Kupikir aku baru pertama kali melihatnya.
“Kayaknya, loe salah orang deh.” Aku pun bergegas pergi meninggalkannya.
bersambung di chapter2#2
