Jumat, 01 April 2011

Symphony no Melody [chapter2#4]

Posted by Beethouvyne On Blogger 07.19, under | No comments


Anata no.....
TOAKK!!!
“YATTTAAAAA!!!” teriakku keras. Menandakan jika pukulanku masuk. Rina dan aku kegirangan, sementara kedua orang tuaku tampak sedikit jengkel.
“Weeekkk!!! Otousan, pasti nggak akan bisa mengalahkan kita! Niichan, desu nee?”
“Yokatta, mada-mada dane!”  Kataku dengan percaya diri.

TOAKK!!
“Uso, kami yang akan menang.” Okasan optimis sembari memukul bola dariku.
“Yo, kami yang akan menang.” Otousan ikut-ikutan optimis.
Kami bermain double, ini meringankan beban Rina agar tidak sepenuhnya menguras tenaganya.
“TATSUKETEE!!!” Otousan berteriak. Dia melakukan smash kepadaku dan Rina. Saat itu posisi smash nya di samping Rina, dan tidak memungkinkan olehku untuk menangkisnya.
“YAAATTAAAAA!!!”
Otousan to Okaasan berteriak keras. Mereka yang memenangkannya. Duh, senangnya! Kedo.. nggak pa-palah! yang penting, aku bisa melihat Rina tersenyum gembira.
“Ano, onaka ga suita..” keluh Rina kepada kami.
“Aduh, baru gerak sedikit saja.. kamu sudah laper? ntar badan kamu bisa segede orang yang bikin cerita ini loh!!” Ucap Hongo, eh... tunggu..... hloh!!!

*TOAKK*  Van memukul Hongo.
(Hei, itu tadi, nggak ada dalam sekenario!! Sekali lagi kau ngomong begitu, aku potong gajimu!!! T__T)

..........................................................................................................................................
Anko (3)
“Hari ini.... hari yang mungkin melelahkan!!! ___ sebagaimana ketika aku harus bekerja keras bersama dengan Makio dan juga Satoshi____Huwaaa!! Aku muak!!!” Dalam perasaan yang campur aduk, Aku bersiap-siap menuju ke sekolahan. Tak lupa aku membawa seambrek kertas, dan kain-kain... ya, untuk membuat rumah hantu itu.
“Otousan, Okaasan, ittekimasu!” Demo, ko’ ngga ada jawaban dari mereka?
Ah, biarin.. palingan masih pada tidur. Hehe...
Begitu aku akan membuka pintu depan rumah,...
“HOWAAAAAAAAAA!!!” kami bertiga nampak keheranan.
“Rave, Lun!” ucapku.
“Sensei!” mereka berdua memanggilku.
“Kok, kalian berdua ada di sini?” tanyaku.
“Holiday Sen, masa nggak boleh main? Hehe” Jelas Rave.
“Hah! Apanya yang libur?”
“Haduw! Baru kita tinggal 5 bulan saja Sensei udah jadi nggak waras gini! IYAA SEN!! INI HARI MINGGU!!” Luna menunjukan kalender yang ada di Hpnya.
“O.. Sensei kalo hari Minggu tetep masuk sekolah ya?” Tanya Rave.
“Nggak ada kali, sekolah yang tetap masuk pada hari Minggu.” Luna nggotot.
“Tapi, kok Sensei??” Rave bingung.
“Hehehe... memang aku yang lupa hari ko. Pantesan, jam segini kok orangtuaku belum bangun juga” Jawabku dengan malu kepada mereka.
“Matte, nee. Aku ganti baju dulu.”
“Yoo..”
..........................................................................................................................................
“Tumben kalian kesini? aku udah kangen setengah mati dengan kalian nih.” Aku segera memeluk mereka berdua.
“MAJI DEE?? Sen bisa kangen juga toh! Hehe.. gomen nee PR ku buwanyyyyyaaaaaaaak banget.” Luna menjelaskan.
“Yosh! PR kami segudang Sen.” Rave mengiyakan.
“Demo, kalian kan tetap masih bisa bertemu. Secara, kaliankan satu sekolah.” Aku mengerutkan keningku.
“Nee, jangan pikirkan yang lain dulu donk! Hari ini kan kita harus bersenang-senang.” Ujar Rave.
“Hai. Kita pergi yuuuk!!” Luna menambahkan.
“Doko e desu ka.” Tanya Rave.
“Chotto.” Kataku kepada mereka berdua. Aku kemudian meninggalkan mereka, untuk menggambil gitarku yang berada didalam kamar.
“Nee.. ikuzo!!” Aku mengomando mereka.
Aku mengajak mereka berdua___ Rave dan Luna_____ menuju ke taman yang biasanya selalu aku datangi____untuk memainkan gitar ini____
Rave memboncengkan Luna, dan aku menaiki sepedaku sendiri, tak lupa dengan gitar kesayanganku yang aku taruh di keranjang bawah.
Kami jadi teringat ketika kami masih SMP. Kami selalu pulang bersama-sama. Rasanya, aku tidak ingin melupakan hari ini....
..........................................................................................................................................
“Duduk~” kataku kepada mereka.
“Disini?”
“Yo..” kataku kepada Rave.
Kemudian, aku mengeluarkan gitarku dari dalam wadahnya, aku duduk bersila dan mulai memainkan lagu-lagu ku.
“Aku sudah lama tidak mendengarmu memainkan gitar, Sen.” Kata Luna.
“Ano, Sensei selalu berada disini tiap minggu?”  Tanya Rave kepadaku.
“Toki doki.”
“Hitori nee?”
“Hai. Habis tidak ada kalian sih.”
“Nggak takut??”
“Takut untuk apa?”
“Kayak ngamen donk Sen.” Ucap Rave nyeletuk.
“Heeeh... Lu tanya nya yang bener dong.” Luna menjitak kepala Rave.
“Kupikir mereka malah terlihat menikmatinya. Kedo, mereka tidak berani mendekat untuk melihatku.. hehe.. mungkin karena aku bukan artis terkenal ya..”  Kataku sambil mengelus-elus kepalaku.
“Yokatta, ntar kalau Sen udah mainin lagu, aku suruh mereka semua yang terliat sangat Exiting untuk mendekat, OK!! Anggap saja kita tidak kenal gitu Sen!” Ucap Luna.
“Sen.. Aku percaya kepadamu. Dachaaaa” Rave pergi bersama Luna.
“Nee... chotto....”  Teriakku. Haduh!! Doshite... aku malah jadi grogi ya... huffh... tenang.. tenang... GANBARE MASU!!!
“lagu pertama.”
“Jrreeeeeenggg.”
“♪ Sumi nareta kono heya wo…. Dete yuku hi ga kita…. Atarashii tabidachi ni mada tomadotteru……..Eki made mukau BASSU no naka, tomodachi ni MERRU shita ♫”

Aku menyanyikan lagu ini. Lagu yang sudah lama tidak aku nyanyikan lagi. Karena Rave dan Luna lah, aku berani untuk menyanyikannya. Semuanya berjalan normal. Hampir setengah dari lagu itu telah kunyanyikan. Tiba-tiba Rave muncul dihadapanku. Dia mulai duduk di depanku. Dan mulai mendengarkanku bernyanyi. Tiba-tiba seseorang juga ikut duduk disamping Rave kedo, dia bukan Luna.. dia orang lain. Sama seperti Rave. Dia tampak tertarik dengan penampilanku.
Tak berapa lama setelah itu, aku melihat satu-demi satu orang-orang duduk mengamatiku, bukan___ lebih tepatnya menikmati penampilanku___ sekarang kira-kira ada 20-an orang yang melihatku, BUKAN!! Mungkin lebih!!! Siapa peduli...
“Sugoi.... kireii na... “ Aku kenal dengan suara ini. Ya, itu Luna.. Hummm aktingnya bagus juga untuk tidak mengenaliku. Ternyata Luna telah mengajak orang lain untuk melihatku. Melihat saking banyaknya orang, rasa grogiku berangsur-angsur menghilang. Rave dan Luna hanya bisa tersenyum sumringah kepadaku. Aku tidak bisa membalas budi baik mereka, Rave to Luna!!! Hontou ni Arigato gozaimasu!!! Plok!Plok!Plok!
Tepuk tangan para penonton (Cieee.. cieee...)menandakan lagu terakhirku telah usai. Aku mengemasi gitarku.
“Gomen nee, Atashi no namae wa Ueno. Hontou ni atashi suki.. suki... ga anata no uta. Yoroshiku da.” Seorang gadis yang kira-kira masih SMP itu menghampiriku.
“Ehhh.. hai! Arigato nee, Minoru Anko desu. Yoroshiku nee.” Ucapku kepadanya dengan tatapan sedikit aneh. Apakah gadis kecil ini “FANS” pertama ku?
“Ano, aku sering melihat Neechan berada disini untuk bernyanyi, tapi aku tidak berani mendekat.” Ungkapnya.
“Neee...T__T”
“Umm, aku minta tanda tangan!”  To the point banget anak ini. Membuat kepalaku menjadi sebesar helem emmmM, lebih tepatnya segede kepala alien. ( emang kepala alien segede apa ya??? Hehe____he)
Dia menyodorkan kertas dan bolpoin padaku.
“Yosh!” aku memberi tanda tangan keduaku setelah tanda tangan untuk kartu OSIS.
“Neechan.. Jya ne.” Ucapnya kepadaku.
“Hai. Jya nee..”
“Sen, anak itu ngapain?” tanya Luna yang tiba-tiba nongol di belakangku.
“Tadi minta tanda tangan.”
“Howaaa.. Maji de!!!” Luna langsung menututi gadis itu dan meminjam kertas yang berisikan tanda tanganku tadi.
“Minnaa!! Mitteeeeee!!” Teriaknya. “Aku dapat tanda tangan dari cewek bergitar tadi loh!!” teriakannya semakin keras. KUSOO!!  Spontan orang-orang yang melihatku tadi menghampiriku dan meminta tanda tanganku. (artis dadakan hehehe..) Nggak hanya minta tanda tangan, mereka juga tanya macam-macam padaku. Mungkin pertanyaan itu sudah dari dulu ingin dilontarkan untukku. Pertanyaan itu seperti,
“Anko pinter ya.. main gitarnya. Belajar dari siapa?”
Itu berkat Otousan ku.
“Anko kok suka main gitar disini sih? Kenapa nggak bikin band aja?”
Mau main gitar di puncak kek, main di jembatan kek, main di WC kek, yang penting aku nya hepi.
“Anko udah punya pacar, aku mau donk punya pacar kayak kamu.”
Neeee....
“Anko, rumahmu dimana? Boleh dong fans datang main?”
Kok pertanyaannya jadi nggak jelas gini sih...
“Nee.. Minna, gomen nee.. aku pulang dulu, jya.”
Aku mengemasi gitarku dan kemudian pulang.  Agar tidak ada yang curiga, Rave dan Luna pulangnya agak nantian. Tidak kusangka!! Akhirnya aku punya fan juga, tidak hanya fan! Tapi FANS!!! Kalian lihat itu, ada tambahan “S” dalam kata Fan.
“Sensei!!!” di belakang, aku melihat Rave dan luna. Luna melambaikan tangannya seperti adegan di film-film. *dasar*
“Nee.. Arigato udah mbantu aku.” Aku meringis 1000 watt kepada mereka.
“Yosh! Yosh! Itu sih masalah kecil!, nee Rave?”
“Yo.. doitashimashite, Sensei.” Jawab Rave.

bersambung di chapter2#5

0 komentar:

Posting Komentar