Hongo(1)
“Kanata-kun!!!” Erika memanggilku dengan suara manjanya yang khas.
“Wui, Wui! Mentang-mentang sudah SMA, Kanata-kun sekarang jarang sekali keluar kelas ya.” Tambah Erika.
“Males aja.” Tanpa berfikir panjang, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
“Apa karena Chinen dan yang lainnya?” Tanya Erika yang kemudian duduk dibangku depanku.
“Mereka semua sudah melupakan aku! Aku tahu itu! Apa mungkin mereka telah lupa dengan Shonen band?” Ujarku yang saat itu tengah bingung level tinggi.
“Weh, Kanata-kun nggak boleh negatif thinking gitu dong. Shonen band pasti akan kembali.” Erika berapi-api.
Di tengah pembicaraanku dengan Erika, seorang temanku, Sasuke menghampiri kami.
“Ano,” Ucapnya ragu.
“Nande?” Tanyaku.
“Dua minggu lagi, mau ada pensi di SMA ini, aku harap kamu mau ikut berpartisipasi.” Jelas Sasuke sembari meringis.
“Hai, tentu saja aku bersedia.” Ucapku sembari tersenyum kepadanya.
“Memangnya, kelas kita mau mengadakan acara apa?”
“Begini Hongo, kalo masalah acara di kelas, semuanya sudah beres.” Sasuke kembali tampak ragu-ragu.
“Sou..” Ucapku seraya menyuruh Sasuke melanjutkan perkataannya.
“Kami akan membuat band khusus untuk acara ini, Kami harap.....”
“AKU NGGAK MAU IKUT.” Perkataan itu tiba-tiba muncul begitu saja dari mulutku.
Entah apa yang aku pikirkan barusan, tapi nampaknya itu cukup menyakitkan hati Sasuke. Bunyi bel pulang sekolah mengakhiri penolakanku terhadap Sasuke tadi. Jujur aku tidak berani memandang wajah Sasuke. Andai saja Shonen band tidak break.... aku tidak akan sekacau ini.
Kedua kakiku berjalan sangat cepat. Tidak menghiraukan semuanya yang ada di sekelilingku. Kepalaku seakan memanas. Aku rindu semuanya. Chinen, Yuto, Ryo, kalian semua, aku........
“BRAAAAAAAAAK”
Sial! Aku terjatuh. Ternyata yang menabrakku itu seorang cewe. Sepertinya dia sepantaran denganku dan juga bersekolah di SMA ini. Aku membantunya berdiri. Setelah sempat melihat wajahnya, aku teringat akan sesuatu. Ya.. seseorang yang pernah aku temui di taman. Benar, tidak salah lagi! Itu dia, perempuan yang selalu memainkan gitarnya di taman.
“Chotto, kayaknya gw tau lo deh.” Aku mencoba berbicara dengannya.
“Kayaknya, loe salah orang deh.” Dia menjawab kemudian berlalu.
Biarpun begitu, aku sangat yakin jika perempuan itu yang berada ditaman. Benar tidak salah lagi. Bagaimanapun aku harus mencari tahu.
..........................................................................................................................................
“Tadaima.” Aku memasuki rumah. Hari ini rumah sepi, hanya ada Ayahku yang hari ini full menjaga studio. Rasanya aku ingin merebahkan tubuhku, tidur selama mungkin, melupakan semua masalah-masalahku hari ini. Mumpung sekarang belum begitu sore.
“Ckleeeek” aku membuka pintu kamar.
“O, okaeri Hongo. Kau sudah pulang ya.” Jawab seseorang yang ada di dalam kamarku.
“Oh, ternyata ada kalian disini.”
“Memangnya tidak boleh ya?” Ucap Kak Ryo yang memang rada tempramental.
“Hei, bocah! Kami di sini kan juga sudah membayar.” Kak Shige menggodaku.
“Ya, aku tahu jika kalian sudah Booking disini 3 jam. Tapi, bukannya booking itu hanya di studio? Kenapa kalian sampai masuk ke dalam kamarku?” Tanyaku.
Aku berjalan menuju tempat tidur dimana ada Yamapi-senpai dan Ryo-Senpai yang sudah pelor dari tadi.
“Urushai” aku melihat kubangan air pada bantalku yang mirip gambar peta negara Jepang yang telah berhasil dilukiskan oleh mereka berdua.
“Kami sudah selesai ngeband kok.” Takahisa-senpai menjelaskan.
“Haduh, aku mau tidur di mana nih!” Aku kebingungan memandangi sekeliling tempat tidurku.
“Taraaaaaaam!!” Yuya-senpai datang dengan membawa beberapa piring sushi dan juga nasi kepal. “Ayo, siapa yang ingin makan ini semua?” langsung saja Takahisa-senpai, dan Yamapi-senpai berteriak.
“AKUUUU! AKUUU!” Haduh!
Aku sampai kewalahan sendiri melihat makhluk-makhluk aneh ini. Shige-senpai malah asyik-asyikan main game Final Fantasy kesukaannya. Memangnya rumahku rental PS apa! Dasar!
“Ayo, Kanata-chan. Dimakan sushi buatan kak Yuya dong.” Aku mengiyakan ajakan Yuya-senpai.
Mau gimana lagi, biarpun dia itu cowok tulen, haduh! Masakannya itu loh, makyuuuuuuus banget. Tapi sama aja, jika aku ingin memakan masakan Yuya-senpai, aku harus berjuang melawan Yamapi-senpai dan Takahisa-senpai yang notabennya termasuk pemakan segalanya itu. Liat aja Yamapi-senpai! Setelah membuat peta di bantalku, dengan gampangnya dia terbangun setelah menghirup sedapnya masakan Yuya-senpai!
Terserahlah, ambil positifnya aja. Toh kalau nggak ada mereka disini setiap hari, aku pasti akan kesepian. Mereka seperti pengganti Yuto, Ryo, dan juga Chinen. Bagaimana jika dulu aku tidak dipertemukan oleh Shige-senpai? Kataku dalam hati.
..........................................................................................................................................
Anko (2)
“Ohayo.” Sapaku kepada Makio, teman sekelasku yang bisa aku harapkan. Hanya dialah satu-satunya temanku yang mau ku ajak ngobrol.
“Ohayo, Anko-chan.” Makio menjawab salamku. “Nan desuka.”
“Ah, ini untuk Bonodori besok.”
“Tapi, apakah sebanyak ini? Hanya kau dan Satoshi yang harus mengerjakannya kan?” Makio tampak sedikit jengkel.
“Mau bagaimana lagi. Doakan saja semoga semua ini selesai tepat waktu.” Kemudian aku duduk dibangkuku.
“Anko, jika butuh bantuan, aku siap kok.” Ujarnya sekali lagi.
Sudah kuduga, hanya aku dan Satoshi yang mengerjakannya. Tidak ada teman yang membantuku. Jika ada seorang yang ingin membantu pun, pastinya itu Makio saja. Untung saja konsep yang diambil Tachibana adalah rumah hantu. Dengan sedikit kepandaian menggambarku, aku masih dapat tersenyum lebar. Dan aku berjanji kalau rumah hantu ini akan menjadi pertunjukan rumah hantu yang paling menakutkan yang pernah ada.
“Ssstttt, Anko! Hei!.. Kesini gih.” Ajak Makio yang saat itu duduk di samping Satoshi.
“Nande?” Tanyaku.
“Lihat ini!” Aku pun mendekati Makio dan Satoshi.
“Sugee....” Kedua mataku melotot melihat hasil karya Satoshi.
“Mirip dengan aslinya kan?” Makio menanyakannya kepadaku.
“Hai. Mirip banget ama hantu.” Aku mengangguk mengiyakan.
“Kamu belajar membuat ini dari mana?” Aku menanyakannya kepada Satoshi.
“Oh, ini. Hanya memerlukan imajinasi untuk membuatnya.” Satoshi menerangkan.
Tidak terasa, bel pulang sekolah berbunyi. Tapi, kami memutuskan untuk melanjutkan membuat rumah hantu beserta isinya secepat mungkin. Aku, Makio, dan Satoshi akhirnya dapat mengenal satu dengan yang lain.. Meski sekarang jam menunjukan pukul 18.15, kami masih mengerjakan proyek rumah hantu ini.
“Howah! Capek!” Makio berdiri dari kursi yang ia duduki tadi.
“Mendingan kita istirahat dulu, besok kan masih bisa dilanjutkan?” Satoshi memberikan kode kepada kami.
“Hai! Ayo kita berkemas-kemas, bisa-bisa nanti aku kehabisan tiket kereta untuk malam ini.” Ucapku sembari mengangkat sebagian hasil karya kami tadi.
“Hei, bagaimana kalau hasil karya kita ini, jangan sampai ada yang tahu.” Makio menambahkan.
“Doshite?” Kata Satoshi kepada Makio.
“Biarkan ini menjadi kejutan untuk teman-teman kita, OK?”
“OK!!” Ucapku dan Satoshi kompak.
“Ano, Jya nee” Makio berpamitan kepadaku dan Satoshi.
Sekarang hanya aku dan Satoshi. Berhubung jalan menuju rumahku dan Satoshi searah, kami pulang bersama. Di sepanjang jalan, kami berbicara panjang lebar tanpa tahu topik yang kami bicarakan. Tapi anehnya, kami saling mengerti. Kuharap, Satoshi mau berteman denganku untuk seterusnya.
“Ano, aku belok sini. Keretanya hampir tiba.” Ucapku kepada Satoshi.
“Anko, ki o tsukette” Katanya kepadaku.
“Hai, anata mo.” Ucapku sembari tersenyum kepadanya.
bersambung di chapter2#3

0 komentar:
Posting Komentar