Jumat, 01 April 2011

Symphony no Melody [chapter2#1]

Posted by Beethouvyne On Blogger 07.16, under | No comments


New Life, New Heart
2#

I found you in this place, so.. I didn’t want to losing you... anytime.... anywhere....


Anko (1)

Tak kusangka... telah 5 bulan lamanya aku berada di SMU Kitagawa ini. SMU yang sebenarnya bukan menjadi sekolah pilihanku. Dan seperti inilah aku sekarang. Minoru Anko, anak kelas X-E. Coba saja tanya kepada anak kelas X yang lainnya, pasti mereka akan mengerutkan keningnya seraya bertanya, Minoru Anko siapa sih?? Atau mereka akan mengatakan, makhluk apaan sih yang bernama Minoru Anko itu??? Berbeda ketika aku di SMP dulu, huuuuuuuff____ kehidupan macam apa sih ini!!!

GUBRAAAAK!!!

“Hahahahaha... Toma Ikuta jatuh dari bangkunya....” terdengar suara keras dari salah seorang temanku.

 Tak berapa lama kemudian, semua teman-temanku tertawa keras sembari mengolok-olok Toma yang sering sekali jatuh dari bangkunya. Padahal, bangku yang Toma duduki sekarang, baru kemarin sore diganti, dasar si Toma ceroboh.
BHAHAHAHAHAHAHA..... Paduan suara tertawa teman-temanku kompak.

“Sudah, sudah, jangan berisik!! Apaan sih, masa liat temennya jatuh malah di tertawain.” Pak Fuji yang saat itu mengajar menegur teman-temanku.
“Oiyah,  bapak sampai lupa. Dua minggu lagi, di sekolahan ini akan diadakan acara tahunan Bonodori. Untuk itu bapak harap kalian semua ikut berpartisipasi.” Ucap Pak Fuji dengan nada serius.
“Untuk itu, bapak harap kekompakan kalian tetap dijaga, dan buatlah acara semeriah mungkin.”
“Hai, wakatteru sensei.” Jawab Tachibana yang notabennya adalah ketua kelasku.
“Kalau bisa nanti setelah pulang sekolah, kalian semua kumpul untuk membicarakannya.” Pak  Fuji menambahkan. Setelah itu, terdengar bel berbunyi nyaring pertanda selesainya jam pelajaran.
..........................................................................................................................................

BAKKKKAAAAAAA!!!!

“Minna!!!!” terngiang suara lengkingan dari Tachibana.
“Ada apa kepala suku!!” Ujar Mayoko yang saat itu tengah merapikan rambutnya yang panjang dengan sisir pinknya.
“Kalian semua jangan pulang dulu. Kita harus membicarakan persiapan kita untuk acara Bonodori kali ini.” Kembali suara Tachibana melengking keras.
“Ah, males ah!!” Ujar Chirio dengan tampang mengejeknya.
“Iya, kan bisa diomongin besok-besok.” Hironori menambahkan.
“Iya, betul!! Males nih!” Paduan suara teman-temanku yang lain kompak menolak.
Kelas macam apakah ini! Aku muak berada di kelas yang tak bisa diharapkan.
“Ya, setidaknya kita mesti memikirkan konsepnya terlebih dahulu. Setelah itu, kita bisa membicarakan ulasannya besok siang.” Satoshi yang notabennya seorang yang baik itu memberikan pendapatnya.
“Benar juga apa yang dikatakan Satoshi tadi.” Kataku mengiyakan pendapat Satoshi.
“Kalau begitu, kau dan Satoshi saja yang membuat konsep sekaligus acaranya buat kami!.” Ujar Tsuru yang merupakan murid paling bawel dan paling centil di kelas.
“Iya! Benar tuwh.” Sekali lagi temen-temenku koor mengiyakan.
Kalau soal pemalasan, penolakan saja mereka bisa kompak!
“Sudah-sudah, jangan begitu dong!” Tachibana kewalahan. “Kalau begitu, aku tentukan konsepnya sekarang.” Tachibana mulai serius.
Konsep yang akan kita ambil dalam acara Bonodori tahun ini adalah rumah hantu.” Ungkap Tachibana dengan senyum lebarnya.
“Bravo! Bravo!.” Semua teman-temanku heboh sendiri.

Mereka semua berdiskusi masing-masing membicarakan tentang kostum apa yang akan mereka kenakan untuk menakut-nakuti pengunjung nantinya.

“Tapi, kita kan harus menentukan siapa saja yang menjadi panitianya kan?” Mayoko kembali bertanya kepada Tachibana.
“Tenang saja kawan, kan sudah ada Satoshi dan Anko, hahaha.” Tsuru berulah lagi.
“Weits, jangan....” Tachibana yang saat itu sedang berbicara tiba-tiba diputus oleh Tsuru.
“Baiklah, kali ini! Aku Tsuru! Memerintahkan kepada Anko dan Satoshi! Kalian berdua ku beri kekuasaan sepenuhnya dalam acara ini!.” Ujar Tsuru sembari berdiri di depan kelas.
“Matteeeeee, maksud loe apa Tsuru?” Aku yang telah menahan amarahku dari tadi sekarang mencoba mengeluarkannya.
“Ya, begini! Dengarkan aku! Ketua Satoshi, wakil Anko, sekretaris Satoshi, bendahara Anko, seksi humas Satoshi,.....” belum selesai Tsuru berbicara,
“Aku pulang.” Aku membawa tasku dan sesegera mungkin meninggalkan kelas.

Di luar kelas aku masih sempat memandangi teman-temanku yang satu demi satu juga ikut mengemasi buku-bukunya. Mengapa sih aku selalu di “Anak tirikan “ di kelas itu. Gerutuku dalam hati.

Sepanjang jalan menuju ke stasiun, aku marah-marah tidak jelas. Tapi semua itu bertujuan agar diriku tidak stress lagi. Begitulah aku, di tengah gerutuku itu, kakiku ini masih saja rewel tidak bisa melihat jalan dengan benar. (ya iyalah masa kaki bisa melihat)

“GABRUKKKK!!!”
“Itttaaaaaaaiii.” Jeritku kesakitan.
“Gomen nee, daijobu desu yo?” suara seorang anak yang sepantaran dengan aku dan memakai seragam SMA sekolahku.
“Shinpai suna, gw ga papa kok.” Balasku sembari senyam-senyum sendiri.
“Em.. “ cowok itu menunjuk-nunjuk sesuatu tetapi tangan yang satunya untuk menutupi kedua matanya.
“Nande?”  Dengan polosnya aku bertanya.
Kemudian aku melihat ke arah rok ku yang sedikit terangkat karena jatuh tadi.
“Gomen nee.” Gantian aku yang meminta maaf kepadanya dengan wajah yang sedikit memerah.

Sama seperti laki-laki itu, yang sudah dari tadi aku amati mukanya yang mulai memerah.

“Bisa berdiri?” laki-laki itu menyodorkan tangan kanannya untukku.
Tanpa berbicara aku memegang tangannya dan kemudian aku dapat berdiri kembali.
“Arigatou.” Aku berterima kasih kemudian melangkah pergi.
“Chotto, kayaknya gw tahu loe deh.” Tiba-tiba laki-laki itu mengatakan hal yang aneh kepadaku.
Kupikir aku baru pertama kali melihatnya.
“Kayaknya, loe salah orang deh.” Aku pun bergegas pergi meninggalkannya.

bersambung di chapter2#2

0 komentar:

Posting Komentar